Showing posts with label Pertanyaan Penting Dalam Matius Pasal 1-5. Show all posts
Showing posts with label Pertanyaan Penting Dalam Matius Pasal 1-5. Show all posts

8.6.07

Bagaimana Manusia Yang Berdosa, Sempurna Seperti Bapa yang Sempurna?

Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.




Bagi umat kerajaan, menjadi sempurna seperti Bapa surgawi mereka yang adalah sempurna, berarti mereka sempurna dalam kasih-Nya. Mereka adalah anak-anak Bapa, memiliki hayat dan sifat ilahi Bapa. Karena itu, mereka dapat sempurna sama seperti Bapa mereka.
Permintaan hukum yang baru dari kerajaan jauh lebih tinggi daripada tuntutan hukum zaman lama. Permintaan yang lebih tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh hayat ilahi Bapa, bukan oleh hayat alamiah.
Kerajaan Surga adalah permintaan yang tertinggi, dan hayat ilahi Bapa adalah suplai tertinggi untuk memenuhi permintaan itu.
Pertama, Injil Matius menyajikan Kerajaan Surga sebagai permintaan yang tertinggi, dan terakhir, Injil Yohanes menyajikan hayat ilahi dari Bapa surgawi sebagai suplai yang tertinggi, yang dengannya kita dapat menempuh hidup yang tertinggi dari Kerajaan Surga.
Permintaan dari hukum baru kerajaan dalam ps. 5-7 sebenarnya merupakan ekspresi dari hayat baru, hayat ilahi, yang ada di dalam umat kerajaan yang dilahirkan kembali. Permintaan ini membuka batin orang yang dilahirkan kembali, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka mampu mencapai tingkat yang sedemikian tinggi dan memiliki kehidupan yang sedemikian tinggi.

Ada Tiga Macam Penghakiman dalam Ayat ini, Apa saja itu?

Matius 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.




Dalam ayat ini, ada tiga macam penghakiman. Yang pertama adalah penghakiman di pintu gerbang kota, yaitu pengadilan distrik. Kedua, penghakiman oleh Mahkamah Agama (Sanhedrin), yaitu penghakiman yang lebih tinggi. Ketiga, penghakiman Allah melalui Gehena yang apinya menyala-nyala, yaitu penghakiman yang paling tinggi.
Ketiga macam penghakiman ini disebutkan oleh Raja baru, yang menggunakan gambaran dari latar belakang Yahudi mengingat semua pendengar-Nya adalah orang Yahudi. Namun, sehubungan dengan umat kerajaan, kaum beriman Perjanjian Baru, semua penghakiman ini mengacu kepada penghakiman Kristus, seperti yang diwahyukan dalam ( 2Kor. 5:10; Rm. 14:10, 12; 1Kor. 4:4-5, 3:13-15; Mat. 16:27; Why. 22:12; dan Ibr. 10:27, 30).
Ini dengan jelas menunjukkan bahwa meskipun kaum beriman Perjanjian Baru sudah diampuni oleh Allah untuk selamanya, jika mereka berdosa terhadap hukum baru kerajaan seperti yang disebutkan di sini, mereka masih harus mengalami penghakiman Tuhan, bukan untuk kebinasaan, melainkan untuk pendisiplinan. Namun, bila kita berdosa terhadap hukum baru kerajaan, kita akan diampuni dan dibersihkan oleh darah Tuhan Yesus kalau kita bertobat dan mengaku dosa-dosa kita (1Yoh. 1:7, 9).

Seberapa Tinggi Standar Yang Tuhan Tuntut Untuk Masuk Dalam Kerajaan Surga? Bagaimana Dapat Aku Melakukannya?

Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga




Kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ..., Bahasa aslinya adalah, kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ... Kebenaran di sini tidak hanya mengacu kepada kebenaran obyektif, yaitu Kristus yang kita terima ketika kita percaya kepada-Nya dan dengan demikian dibenarkan di hadapan Allah (1Kor. 1:30; Rm. 3:26), tetapi juga mengacu kepada kebenaran yang subyektif, yaitu Krustus yang berhuni yang diperhidupkan dari diri kita sebagai kebenaran kita, agar kita dapat hidup dalam realitas kerajaan hari ini dan memasuki manifestasinya pada masa yang akan datang.
Kebenaran yang subyektif ini kita peroleh bukan hanya dengan menggenapi hukum yang lama, tetapi juga dengan melengkapi hukum lama melalui menggenapi hukum baru Kerajaan Surga yang diberikan oleh Raja baru di sini dalam bagian firman ini. Kebenaran umat kerajaan ini, yang sesuai dengan hukum baru kerajaan, melampaui kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang sesuai dengan hukum lama.
Hayat alamiah kita tidak mungkin bisa mendapatkan kebenaran yang unggul ini. Kebenaran ini hanya dapat dihasilkan dari hayat yang lebih tinggi, hayat kebangkitan Kristus. Kebenaran ini, yang digambarkan seperti pakaian pesta pernikahan (22:11-12), melayakkan kita untuk berbagian dalam pernikahan Anak Domba (Why. 19:7-8) dan mewarisi Kerajaan Surga dalam manifestasinya, yaitu untuk memasuki Kerajaan Surga pada masa yang akan datang.
Kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah kebenaran harfiah yang mereka praktekkan dengan hayat mereka sendiri berdasarkan hukum lama yang harfiah; kebenaran yang unggul dari umat kerajaan adalah kebenaran hayat yang mereka perhidupkan dengan mengambil Kristus sebagai hayat mereka berdasarkan hukum baru hayat. Baik dalam sifat maupun dalam standar, kebenaran hayat jauh lebih unggul daripada kebenaran tanpa hayat yang dipraktekkan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Sampai Kapan Hukum Taurat akan Berlaku?

Matius 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi



Setelah Kerajaan Seribu Tahun, langit lama dan bumi lama akan berlalu, yaitu ketika langit baru dan bumi baru datang (Why. 21:1; Ibr. 1:11-12, 2Ptr. 3:10-13).
Apa yang tercakup dalam hukum Taurat hanya mencapai langit baru dan bumi baru (Yes. 65:17, 66:22).
Itulah sebabnya dalam ay. 17 disebutkan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, tetapi dalam ay. 18 hanya disebutkan hukum Taurat, bukan kitab nabi-nabi.

Tuhan Datang untuk Menggenapi Hukum Taurat Apa Maksudnya?

Matius 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.



Di sini, Kristus menggenapi hukum Taurat, berarti 1) pada aspek positifnya, Dia menuruti hukum Taurat; 2) pada aspek negatifnya, melalui kematian penggantian-Nya di salib, Dia menggenapi tuntutan hukum Taurat; dan 3) dalam bagian ini Dia melengkapi hukum yang lama dengan hukum-Nya yang baru, seperti yang berkali-kali dikatakan-Nya, "Tetapi Aku berkata kepadamu" (ay. 22, 28, 32, 34, 39, 44). Karena Kristus menuruti hukum Taurat, Dia memenuhi syarat untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat melalui kematian penggantian-Nya di salib, Dia mendatangkan hayat kebangkitan untuk melengkapi hukum Taurat, sepenuhnya menggenapi hukum Taurat.
Hukum lama, hukum yang lebih rendah dengan permintaan yang harus dituruti dan tuntutan yang menghukum manusia, sudah berlalu. Umat kerajaan, sebagai anak-anak Bapa, kini hanya perlu menuruti hukum baru, hukum yang lebih tinggi, dengan hayat kebangkitan, yaitu hayat kekal Bapa. Hukum lama diberikan melalui Musa, sedangkan hukum baru diumumkan oleh Kristus sendiri.
Hukum beraspek dua : perintah hukum dan prinsip hukum. Perintah hukum telah digenapi dan dilengkapi karena kedatangan Tuhan, sedangkan prinsip hukum telah digantikan oleh prinsip kepercayaan menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Alkitab Menyuruh Kita Bersukacita Senantiasa, tetapi Alkitab juga Berkata Berbahagialah Orang yang Berdukacita. Berdukacita Terhadap Apakah yang Dimak

Matius 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur
I Tesalonika 5:16 Bersukacitalah senantiasa



Seluruh suasana dunia bersifat negatif terhadap ekonomi Allah. Iblis, dosa, diri, kegelapan, dan keduniawian mendominasi semoa orang di bumi. Kemuliaan Allah dipermalukan, Kristus ditolak, Roh Kudus dikecewakan, gereja menjadi terlantar, diri menjadi bobrok, dan seluruh dunia jahat. Allah menghendaki kita berduka atas suasana seperti itu.
Jika kita berduka menurut Allah dan ekonomi-Nya, kita akan dihibur dengan jalan diberi upah Kerajaan Surga. Kita akan nampak pemerintahan surgawi Allah atas seluruh suasana negatif.

Apakah yang dimaksud Kerajaan Surga? Berbedakah dengan Kerajaan Allah?

Matius 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.



Kerajaan Surga adalah sitilah yang dipakai dengan khusus oleh Matius, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Allah (lihat bagan pada halaman 28-29, Alkitab dengan Catatan kaki Versi Pemulihan).
Kerajaan Allah disebutkan dalam tiga kitab Injil lainnya. Kerajaan Allah adalah pemerintahan umum Allah dari zaman azali sampai zaman abadi, emliputi kekekalan tanpa awal sebelum dunia dijadikan, nenek moyang yang terpilih (termasuk Adam semasih di taman Eden), bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, gereja dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu tahun yang akan datang (termasuk bagian surgawinya, manifestasi Kerajaan Surga, dan bagian buminya, Kerajaan Mesias), dan langit Baru dalam kekekalan tanpa akhir.
Kerajaan Surga adalah bagian khusus dalam kerajaan Allah, bagian yang hanya terdiri dari gereja hari ini dan bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Maka, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam ketiga Injil yang lain, Kerajaan Surga sebagai bagian dari Kerajaan Allah, juga disebut "Kerajaan Allah".
Dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Allah umumnya sudah ada bersama bangsa Israel (21:43); Kerajaan Surga, secara khusus, masih belum datang dan hanya sudah dekat ketika Yohanes Pembaptis datang (3:1-2; 11:11-12).
Menurut Matius, ada tiga aspek mengenai Kerajaan Surga : realitasnya, penampilannya, dan manifestasinya. Realitas Kerajaan Surga ialah isi batiniah Kerajaan Surga dalam sifat surgawinya dan sifat rohaninya, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di atas gunung dalam ps. 5-7. Penampilan Kerajaan Surga adalah keadaan luar Kerajaan Surga dalam nama, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di tepi laut dalam ps. 13. Manifestasi Kerajaan Surga ialah kedatangan riil Kerajaan Surga dalam kuasa, seperti yang diungkapkan oleh Raja di Bukit Zaitun dalam ps. 24-25.
Realitas dan penampilan Kerajaan Surga ada pada gereja hari ini. Realitas Kerajaan Surga adalah hidup gereja yang normal (Rm. 14:17), yang berada dalam penampilan Kerajaan Surga, yang dikenal sebagai kekristenan. Manifestasi Kerajaan Surga adalah bagian surgawi dari kerajaan seribu tahun yang akan datang, yang mengacu kepada Kerajaan Bapa dalam 13:43; bagian bumi dari Kerajaan Seribu Tahun adalah Kerajaan Mesias, yang mengacu kepada Kerajaan Anak Manusia dalam 13:41, dan yang merupakan kemah Daud yang dipugar, kerajaan Daud (Kis. 15:16). Dalam bagian surgawi Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Surga yang ternyata dalam kuasa, kaum beriman pemenang akan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:4, 6); dalam bagian bumi dari Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Mesias di bumi, sisa orang Isarel yang beroleh selamat akan menjadi imam dan akan mengajar bangsa-bangsa untuk menyembah Allah (Za. 8:20-23).
Jika kita miskin dalam roh, Kerajaan Surga adalah milik kita; sekarang kita berada dalam realitasnya dalam zaman gereja, dan kita akan berbagian dalam manifestasinya dalam zaman kerajaan.

Apakah yang dimaksud Kerajaan Surga? Berbedakah dengan Kerajaan Allah?

Matius 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.



Kerajaan Surga adalah sitilah yang dipakai dengan khusus oleh Matius, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Allah (lihat bagan pada halaman 28-29, Alkitab dengan Catatan kaki Versi Pemulihan).
Kerajaan Allah disebutkan dalam tiga kitab Injil lainnya. Kerajaan Allah adalah pemerintahan umum Allah dari zaman azali sampai zaman abadi, emliputi kekekalan tanpa awal sebelum dunia dijadikan, nenek moyang yang terpilih (termasuk Adam semasih di taman Eden), bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, gereja dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu tahun yang akan datang (termasuk bagian surgawinya, manifestasi Kerajaan Surga, dan bagian buminya, Kerajaan Mesias), dan langit Baru dalam kekekalan tanpa akhir.
Kerajaan Surga adalah bagian khusus dalam kerajaan Allah, bagian yang hanya terdiri dari gereja hari ini dan bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Maka, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam ketiga Injil yang lain, Kerajaan Surga sebagai bagian dari Kerajaan Allah, juga disebut "Kerajaan Allah".
Dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Allah umumnya sudah ada bersama bangsa Israel (21:43); Kerajaan Surga, secara khusus, masih belum datang dan hanya sudah dekat ketika Yohanes Pembaptis datang (3:1-2; 11:11-12).
Menurut Matius, ada tiga aspek mengenai Kerajaan Surga : realitasnya, penampilannya, dan manifestasinya. Realitas Kerajaan Surga ialah isi batiniah Kerajaan Surga dalam sifat surgawinya dan sifat rohaninya, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di atas gunung dalam ps. 5-7. Penampilan Kerajaan Surga adalah keadaan luar Kerajaan Surga dalam nama, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di tepi laut dalam ps. 13. Manifestasi Kerajaan Surga ialah kedatangan riil Kerajaan Surga dalam kuasa, seperti yang diungkapkan oleh Raja di Bukit Zaitun dalam ps. 24-25.
Realitas dan penampilan Kerajaan Surga ada pada gereja hari ini. Realitas Kerajaan Surga adalah hidup gereja yang normal (Rm. 14:17), yang berada dalam penampilan Kerajaan Surga, yang dikenal sebagai kekristenan. Manifestasi Kerajaan Surga adalah bagian surgawi dari kerajaan seribu tahun yang akan datang, yang mengacu kepada Kerajaan Bapa dalam 13:43; bagian bumi dari Kerajaan Seribu Tahun adalah Kerajaan Mesias, yang mengacu kepada Kerajaan Anak Manusia dalam 13:41, dan yang merupakan kemah Daud yang dipugar, kerajaan Daud (Kis. 15:16). Dalam bagian surgawi Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Surga yang ternyata dalam kuasa, kaum beriman pemenang akan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:4, 6); dalam bagian bumi dari Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Mesias di bumi, sisa orang Isarel yang beroleh selamat akan menjadi imam dan akan mengajar bangsa-bangsa untuk menyembah Allah (Za. 8:20-23).
Jika kita miskin dalam roh, Kerajaan Surga adalah milik kita; sekarang kita berada dalam realitasnya dalam zaman gereja, dan kita akan berbagian dalam manifestasinya dalam zaman kerajaan.

Apakah Syarat Untuk Memiliki Kerajaan Surga?

Matius 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.



Miskin dalam roh bukan hanya rendah hati melainkan juga dikosongkan dalam roh, dalam kedalaman diri kita, tidak berpegang pada hal-hal lama dari zaman yang lama, tetapi dibongkar untuk menerima hal-hal baru, hal-hal Kerajaan Surga.
Di hadapan Allah dalam bahasa aslinya adalah dalam roh. Roh di sini tidak mengacu kepada Roh Allah, melainkan roh insani kita, bagian terdalam dari diri kita, organ yang dengannya kita mengontak Allah dan memahami hal-hal rohani. Kita perlu menjadi miskin, dikosongkan, dibongkar, dalam bagian diri kita ini, agar kita bisa memahami dan mendapatkan Kerajaan Surga. Ini menyiratkan bahwa Kerajaan Surga bersifat rohani, bukan bersifat material.

Setiap Kerajaan Memiliki Undang-Undang. Apakah Undang-Undang Dasar Kerajaan Surga?

Matius 5:1-2 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:




Raja baru memanggil pengikut-pengikut-Nya di tepi laut, tetapi untuk menyampaikan konstitusi Kerajaan Surga, Dia naik ke atas gunung. Ini menunjukkan bahwa demi realisasi Kerajaan Surga, kita perlu pergi ke tempat yang lebih tinggi bersama-Nya.
Dapat juga diterjemahkan diberkati dan berbahagialah. Pasim. Perkataan yang diucapkan raja baru sebagai konstitusi Kerajaan Surga, merupakan wahyu tentang kehidupan rohani dan prinsip-prinsip surgawi dari Kerajaan Surga, yang terdiri dari tujuh bagian :
Bagian pertama (5:3-12) menggambarkan sifat dasar umat Kerajaan Surga yang berada di bawah sembilan berkat. Mereka adalah orang-orang yang miskin dalam roh, yang berduka atas keadaan saat ini, yang lemah lembut dalam menanggung tentangan, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang bermuarh hati kepada orang lain, yang murni hatinya, yang membawa damai, yang menderita aniaya karena kebenaran, dan yang dicela serta difitnah dengan jahat karena Tuhan.
Bagain kedua dari perkataan Raja baru yang disampaikan di atas gunung (ay. 13-16), membahas pengaruh umat Kerajaan Surga terhadap dunia. Mereka adalah garam bagi dunia yang bobrok dan terang bagi dunia yang gelap.
Ketiga dari perkataan Raja di atas gunung (ay. 17- 48) membahas hukum umat Kerajaan Surga.
Bagian keempat dari dekrit Raja di atas gunug (ay. 1-18) berkenaan dengan perbuatan benar umat kerajaan.
Bagian kelima dari dekrit Raja (ay. 19-34) membahas harta umat kerajaan.
Bagian keenam dari dekrit Raja baru di atas gunung (ay. 1-12) menyinggung prinsip-prinsip umat kerjaan dalam menghadapi orang lain.
Umat kerajaan yang hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan surgawi kerajaan, selalu menghakimi diri sendiri, bukan menghakim orang lain.
Bagian ketujuh dan terkahir dari dekrit Raja (ay. 13-29) menyinggung dasar kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan.

Apa Perbedaan Antara Injil Kasih Karunia? Kepada Siapa Injil ini harus di beritakan?

Matius 4:23 Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Matius 24:14 Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.



Atau, kabar baik, berita sukacita. Dalam kitab ini, Injil disebut "Injil kerajaan". Injil kerajaan bukan hanya mencakup pengampunan dosa (cf. Luk. 24:47) dan penyaluran hayat (cf. Yoh 20:31), tetapi juga mencakup Kerajaan Surga (24:14) dengan kuasa zaman yang akan datang (Ibr. 6:5), kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit (Yes. 35:5-6; Mat. 10:1). Pengampunan dosa dan penyaluran hayat adalah untuk kerajaan.
Injil kerajaan, yang meliputi Injil kasih karunia (Kis. 20:24), tidak hanya membawa manusia ke dalam keselamatan Allah, tetapi juga membawa mereka ke dalam Kerajaan Surga (Why. 1:9). Injil kasih karunia menekankan pengampunan dosa, penebusan Allah, dan hidup kekal, sedangkan Injil kerajaan menekankan pemerintahan surgawi Allah dan wewenang Tuhan. Injil kerajaan menekankan pemerintahan surgawi Allah dan wewenang Tuhan. Injil kerajaan menekankan pemerintahan surgawi Allah dan wewenang Tuhan. Injil kerajaan ini akan diberitakan ke seluruh bumi sebagai satu kesaksian kepada semua bangsa sebelum akhir zaman ini. Karena itu, pemberitaan itu, yang dilambangkan oleh kuda putih dari meterai pertama dalam Why. 6:1-2, akan menjadi satu tanda kesudahan zaman ini.
Injil kerajaan adalah kesaksian bagi semua bangsa (bukan Yahudi). Kesaksian ini harus disebarkan ke seluruh bumi sebelum akhir zaman ini, yaitu sebelum kesusahan besar.

Mengapa Iblis Mengatakan Semua itu Akan Kuberikan Kepada Tuhan. Apakah Iblis Pemilik Semua itu?

Matius 4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."



Lukas 4:6 mengatakan bahwa kerajaan dunia dan kemuliaannya diserahkan kepada Iblis; sebab itu, Iblis dapat memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Sebelum kejatuhannya, Iblis adalah penghulu malaikat yang ditunjuk oleh Allah sebagai penguasa dunia (Yeh. 28:13-14). Karena itu, dia disebut "penguasa dunia ini" (Yoh. 12:31), yang menguasai semua kerajaan dunia ini dan kemuliaannya. Karena ingin disembah, dia memamerkan semua ini untuk mencobai Raja yang baru diurapi. Raja yang surgawi mengalahkan pencobaan ini, tetapi Antikristus tidak (Why. 13:2, 4).

Mengapa Tuhan Yesus Mempertahankan KedudukanNya sebagai Manusia untuk Mengalahkan Pencobaan Si Penggoda?

Matius 4:3-4 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."




Raja yang baru diurapi berpuasa dalam keinsanian-Nya, berdiri pada kedudukan sebagai manusia. Di pihak lain, Dia juga adalah Anak Allah, seperti yang telah dinyatakan oleh Allah Bapa pada saat Dia dibaptis (3:17). Untuk merampungkan ministri-Nya bagi Kerajaan Surga, Dia harus mengalahkan musuh Allah, Iblis, Satan. Hal ini harus dilakukan-Nya sebagai manusia. Karena itu, Dia berdiri sebagai manusia untuk mengahadapi musuh Allah. Mengetahui hal ini, Iblis mencobai Dia agar Dia meninggalkan kedudukan-Nya sebagai manusia dan mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah. Empat puluh hari sebelumnya, Allah Bapa telah menyatakan dari surga bahwa Dia adalah Anak yang dikasihi Bapa. Pencoba yang licik itu mengambil pernyataan Allah Bapa sabagai dasar untuk mencobai Dia. Jika Dia mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah di hadapan musuh, Dia akan kehilangan kedudukan untuk mengalahkan musuh (lihat cat. 42).
Si pencoba mencobai Raja yang baru untuk mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Dia menjawab dengan perkataan Alkitab, "Manusia ...," yang menunjukkan bahwa Dia berdiri pada kedudukan manusia untuk menanggulangi musuh. Setan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (8:29), tetapi roh jahat tidak mengakui bahwa Yesus datang dalam tubuh daging (1Yoh 4:3), karena dengan mengakui Yesus sebagai manusia, mereka menyatakan bahwa mereka sudah kalah. Meskipun setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah, ia tidak akan membiarkan manusia mempercayai Dia sebagai Anak Allah, karena dengan berbuat demikian, manusia akan beroleh selamat (Yoh. 20:31).

Tuhan diKandung dari Roh Kudus (1:20) Mengapa Ketika diBaptis Turun Roh Kudus Lagi?

Matius 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus
Matius 3:16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya



Sebelum Roh Allah turun ke atas-Nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus (Luk. 1:35). Ini membuktikan bahwa pada saat Dia dibaptis, Dia sudah memiliki Roh Allah dalam diri-Nya. Roh itu ada dalam diri-Nya untuk kelahiran-Nya. Kini untuk ministri-Nya, Roh Allah turun ke atas-Nya. Ini adalah penggenapan Yes. 61:1, 42:1; dan Mzm. 45:8, dan dilaksanakan untuk mengurapi Raja baru dan memperkenalkan-Nya kepada manusia.
Mat. 1:18 dan 20 memberi tahu kita bahwa Maria "mengandung dari Roh Kudus", dan bahwa "anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus". Ini menunjukkan bahwa esens ilahi yang berasal dari Roh Kudus ini telah terkandung dalam rahim Maria sebelum dia melahirkan bayi Yesus. Terkandungnya Roh Kudus dalam anak dara manusia, yang digenapkan dengan esens ilahi dan insani, menyusun suatu pembauran antara sifat ilahi dengan sifat insani, menghasilkan seorang manusia-Allah, yaitu seorang yang adalah Allah yang lengkap juga manusia yang sempurna, memiliki sifat ilahi dan sifat insani secara nyata, tetapi tidak menghasilkan sifat ketiga. Inilah persona Yesus yang paling ajaib dan paling unggul, yaitu Yehova Penyelamat.
Terkandungnya Yohanes Pembaptis sama sekali berbeda dengan esensnya dengan terkandungnya Yesus Penyelamat. Terkandungnya Yohanes Pembaptis adalah mujizat Allah, digenapkan dengan esens manusia yang telah lanjut usia, hanya dengan kuasa ilahi tanpa menghasilkan manusia yang dipenuhi Roh Allah (ay. 15) tetapi tidak memiliki sifat Allah. Terkandungnya Penyelamat merupakan inkarnasi Allah (Yoh. 1:14), tidak hanya tersusun dari kuasa ilahi tetapi juga esens ilahi yang ditambahkan kepada esens insani, dengan demikian menghasilkan manusia-Allah yang memiliki dua sifat – ilahi dan insani. Melalui hal ini, Allah menyatukan diri-Nya dengan keinsanian agar Dia dapat dinyatakan dalam daging (1Tim. 3:16) dan dapat menjadi Manusia-Penyelamat (2:11).

Mengapa Tuhan Yesus Yang Adalah Allah dan Manusia Yang Sempurna Juga Perlu diBaptis?

Matius 3:15-16 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,

Kehendak Allah, Bahasa aslinya adalah kebenaran. Benar adalah menjadi tepat dengan hidup, berjalan, dan melakukan segala hal menurut cara yang ditetapkan oleh Allah. dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud benar adalah memelihara hukum Taurat yang telah Allah berikan.
Kini Allah mengutus Yohanes Pembaptis untuk mengadakan pembaptisan. Dibaptis juga menggenapkan kebenaran di hadapan Allah, yaitu menggenapkan syarat Allah. Tuhan Yesus datang kepada Yohanes bukan sebagai Allah melainkan sebagai manusia biasa, orang Israel sejati. Karena itu, Dia harus dibaptis untuk memelihara pengaturan Allah pada zaman ini, kalau tidak, Dia tidak akan benar terhadap Allah.
Tuhan dibaptis bukan hanya untuk menggenapkan segala kebenaran menurut peraturan Allah, tetapi juga untuk memberikan diri-Nya ditaruh dalam kematian dan kebangkitan, agar Dia dapat melayani bukan secara alamiah, melainkan dalam kebangkitan.
Dengan dibaptis, Dia mampu hidup dan melayani dalam kebangkitan, sekalipun Dia belum benar-benar mengalami mati dan bangkit, yang dialami-Nya tiga setengah tahun kemudian.
Tuhan dibaptis untuk menggenapkan kebenaran Allah dan untuk ditaruh ke dalam kematian dan kebangkitan. Hal ini membawakan tiga hal kepada-Nya : langit terbuka, Roh Allah turun, dan Bapa berbicara. Demikian pula dengan kita hari ini.

Sebelum Roh Allah turun ke atas-Nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus (Luk. 1:35). Ini membuktikan bahwa pada saat Dia dibaptis, Dia sudah memiliki Roh Allah dalam diri-Nya. Roh itu ada dalam diri-Nya untuk kelahiran-Nya. Kini untuk ministri-Nya, Roh Allah turun ke atas-Nya. Ini adalah penggenapan Yes. 61:1, 42:1; dan Mzm. 45:8, dan dilaksanakan untuk mengurapi Raja baru dan memperkenalkan-Nya kepada manusia.
Burung merpati bersifat lembut, dan matanya hanya dapat melihat satu sasaran pada satu saat. Karena itu, perkara itu melambangkan kelembutan dan ketulusan dalam pandangan dan tujuan. Dengan turunnya Roh Allah seperti burung merpati ke atas-Nya, Tuhan Yesus melayani dalam kelembutan dan ketulusan, hanya tertuju pada kehendak Allah.

Ada Tiga Macam Baptisan. Baptisan Air, Roh Kudus dan Api. Dengan Baptisan Manakah Anda Ingin di Baptis?

Matius 3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api



Menurut konteksnya, api di sini bukanlah api dalam Kis. 2:3, yang berubungan dengan Roh Kudus, melainkan api yang sama dengan yang disebutkan dalam ay. 10 dan 12, api dalam telaga api (Why. 20:15), tempat orang yang tidak percaya mengalami kebinasaan kekal. Perkataan Yohanes yang ditujukan kepada orang Farisi dan Saduki di sini berarti, jika orang Farisi dan orang Saduki mau sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Tuhan, Tuhan akan membaptis mereka dengan Roh Kudus supaya mereka bisa mendapatkan hayat kekal; kalau tidak, Tuhan akan membaptis mereka dengan api, dengan menaruh mereka dalam telaga api untuk dihukum selamanya.
Baptisan Yohanes hanya untuk pertobatan, untuk mengantar orang kepada iman dalam Tuhan. Baptisan Tuhan akan membuat orang mendapatkan hayat kekal dalam Roh Kudus atau menerima kebinasaan kekal dalam api. Baptisan Tuhan dalam Roh Kudus mengawali Kerajaan Surga, membawa kaum beriman-Nya ke dalam Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api akan mengakhiri Kerajaan Surga, menaruh orang yang tidak percaya ke dalam telaga api.
Karena itu, baptisan Tuhan dalam Roh Kudus, yang berdasar pada penebusan-Nya, adalah awal Kerajaan Surga, sedangkan baptisan-Nya dalam api, yang berdasar pada penghakiman-Nya, adalah akhir dari Kerajaan Surga.
Jadi, dalam ayat ini ada tiga macam baptisan : baptisan dalam air, baptisan dalam Roh, dan baptisan dalam api. Baptisan dalam air yang dilakukan oleh Yohanes memperkenalkan Kerajaan Surga kepada orang. Baptisan dalam Roh yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, mewujudkan dan mendirikan Kerajaan Surga pada hari Pentakosta dan akan berlangsung terus sampai perampungannya pada akhir zaman ini. Baptisan api yang dilakukan oleh Tuhan berdasarkan penghakiman pada takhta putih besar (Why. 20:11-15) akan menyudahi Kerajaan Surga.

Orang-orang yang dilambangkan dengan gandum memiliki hayat di batinnya. Tuhan akan membaptis mereka dalam Roh Kudus dan pada saat terangkat, mereka akan dikumpulkan-Nya ke dalam lumbung-Nya di angkasa.
Orang-orang yang dilambangkan dengan sekam, seperti lalang dalam 13:24-30, tidak memiliki hayat. Tuhan akan membaptis mereka dalam api, menaruh mereka dalam telaga api.
Sekam di sini mengacu kepada orang Yahudi yang tidak mau bertobat, sedangkan lalang dalam ps. 13 mengacu kepada orang Kristen sebutan. Nasib kekal keduanya sama – kebinasaan dalam telaga api (13:40-42).

Baptisan Bukan Hanya Suatu Ritual, tetapi Memiliki Makna yang Kaya. Apa Makna Baptisan?

Matius 3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.



Membaptis orang adalah mencelup mereka, mengubur mereka dalam air, yang melambangkan kematian.
Yohanes Pembaptis melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa orang yang bertobat tidak ada gunanya lagi selain untuk dikuburkan. Selanjutnya, hal ini melambangkan bahwa persona yang usang telah diakhiri sehingga suatu permulaan baru dapat direalisasikan dalam kebangkitan, dapat didatangkan oleh Kristus sebagai Pemberi-hayat.
Karena itu setelah ministri Yohanes, Kristus datang. Baptisan Yohanes bukan hanya mengakhiri orang yang bertobat, tetapi juga mengantar mereka kepada Kristus untuk mendapatkan hayat. Dalam Alkitab, baptisan menyiratkan kematian dan kebangkitan. Dibaptis ke dalam air berarti dimasukkan ke dalam kematian dan dikubur. Keluar dari air berarti dibangkitkan dari kematian.
Sungai Yordan adalah sungai tempat penguburan dua belas batu yang melambangkan kedua belas suku Israel. Dari sungai itu juga diangkat atau dibangkitkan dua belas batu lain, yang juga melambangkan kedua belas suku Israel (Yos. 4:1-18). Maka, membaptis orang di Sungai Yordan menyiratkan penguburan orang lama dan kebangkitan orang baru. Sebagaimana menyeberangi Sungai Yordan mengantar orang Israel ke tanah permai, demikian pula baptisan membawa orang masuk ke dalam Kristus, realitas tanah permai.

Mengapa Yohanes Memberitakan Kerajaan Surga Sudah Dekat?

Matius 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!


Dalam pemberitaan Yohanes Pembaptis, pertobatan sebagai pembukaan ekonomi Perjanjian Baru Allah, mencakup berpaling bagi Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah berfokus pada kerajaan-Nya.
Untuk ini kita harus bertobat, mengubah pikiran kita, mengalihkan hidup kita. Sasaran yang kita kejar dulu mungkin berupa banyak perkara; sekarang, kita harus mengalihkan sasaran kepada Allah dan kerajaan-Nya, yang dalam Matius (cf. Mrk. 1:15) khususnya dan sengaja disebut "Kerajaan Surga".
Menurut Injil Matius secara keseluruhan, Kerajaan Surga berbeda dengan Kerajaan Mesias. Kerajaan Mesias adalah kerajaan Daud yang terpulih (kemah Daud yang dibangun kembali – Kis 15:16), yang terbentuk dari bani Israel dan bersifat bumiah dan fisik; sedangkan Kerajaan Surga tersusun dari kaum beriman yang dilahirkan kembali dan bersifat sugawi dan rohani (lihat cat. 34 dalam ps. 5).

Ini dengan jelas menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Yohanes Pembaptis, Kerajaan Surga belum ada. Bahkan setelah dia tampil, dalam pemberitaannya, kerajaan Surga masih belum ada; hanya sudah dekat. Pada saat Tuhan memulai ministri-Nya, dan bahkan pada saat Dia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan, Kerajaan Surga masih belum datang (4:17, 10:7). Karena itu, dalam perumpamaan pertama pada ps. 13, eprumpamaan benih (13:3-9) yang menunjukkan pemberitaan Tuhan, Tuhan tidak mengatakan, "Kerajaan Surga adalah seperti..." Baru dalam perumpamaan kedua, perumpaamaan lalang (13:24), yang menunjukkan pendirian gereja pada hari Pentakosta, Tuhan berkata demikian.
Matius 16:18-19, yang menggunakan istilah gereja dengan Kerajaan Surga secara bergantian, membuktikan bahwa Kerajaan Surga datang ketika gereja didirikan.

Mengapa Yohanes Pembaptis Melayani Allah Secara Liar? Tidak Seperti Imam padahal Ia adalah Keturunan Imam.

Matius 3:1,4 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.


Zaman hukum Taurat berakhir dengan kedatangan Yohanes Pembaptis (11:13; Luk. 16:16). Setelah baptrisan oleh Yohanes, dimulailah pemberitaan Injil damai sejahtera (Kis. 10:36-37). Pemberitaan Yohanes adalah permulaan Injil (Mrk. 1:1-5). Sebab itu, zaman kasih karunia dimulia dengan Yohanes.
Pemberitaan Yohanes Pembaptis adalah pengantar ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dia melakukan pemberitaan ini bukan di Bait Suci dalam kota suci, tempat orang-orang yang beragama dan berbudaya menyembah Allah menurut peraturan dalam kitab suci mereka, melainkan di padang gurun, dengan cara yang "liar", tidak memelihara paraturan usang yang mana pun.
Ini menunjukkan bahwa jalan usang penyembahan kepada Allah menurut Perjanjian Lama telah ditolak, dan bahwa suatu jalan baru akan diperkenalkan. Padang gurun di sini menunjukkan bahwa jalan baru ekonomi Perjanjian Baru Allah berlawanan dengan agama dan kebudayaan.
Selanjutnya, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang usang yang tertinggal dan bahwa sesuatu yang baru akan dibangun
Yohanes Pembaptis memulai ministrinya di padang gurun berdasarkan nubuat. Ini menunjukkan bahwa perbuatan Yohanes memperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah bukanlah kebetulan, melainkan telah direncanakan oleh Allah dan sudah dikatakan-Nya sebelumnya melalui Nabi Yesaya. Ini menyiratkan bahwa Allah ingin memulai ekonomi Perjanjian Baru-Nya dengan cara yang mutlak baru.
Yohanes terlahir sebagai imam (Luk. 1:5, 13). Menurut peraturan Hukum Taurat, dia harus memakai pakaian imam yang terbuat dari kain lenan halus (Kel. 28:4, 40-41; Im. 6:10; Yeh. 44:17-18), dan makan makanan imam, yang terutama terbuat dari tepung halus dan daging dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah oleh umat-Nya (Im. 2:1-3; 6:16-18, 25-26; 7:31-34).
Namun, yang dilakukan Yohanes berbeda sama sekali. Dia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makan belalang dan madu hutan. Semua benda itu tidaklah beradab, tidak berbudaya, dan tidak sesuai dengan aturan agama. Bila seorang imam memakai jubah bu\lu unta, itu merupakan pukulan yang sangat hebat bagi pikiran agamawi, karena unta dianggap najis menurut aturan orang Lewi (Im. 11:4). Di samping itu, Yohanes tidak tinggal di kota yang beradab, melainkan di padang gurun (Luk. 3:2).
Semuanya itu menunjukkan bahwa dia sepenuhnya telah meninggalkan zaman Perjanjian Lama, yang sudah merosot menjadi satu agama yang bercampur dengan kebudayaan manusia. Maksudnya adalah meperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang tersusun oleh Kristus dan Roh hayat belaka.

Hikmat dan Kedaulatan Allah Ternyata Sejak Kristus Dikandung dan Dilahirkan. Bagaimanakah Kita Mengikuti Kristus?

Matius 2:23 Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret


Di bawah pengaturan kedaulatan Allah, Kaisar Agustus mengadakan sensus yang pertama di Kekaisaran Romawi (Luk. 2:1-3). Melalui sensus itulah Kristus dilahirkan di Betlehem (Luk. 2:4-7) untuk menggenapi nubuat tentang kelahiran-Nya (Mi. 5:2).
Dia tinggal disana sejangka waktu. Kemudian, karena penganiayaan Herodes, Dia dibawa lari ke Mesir (ay. 13-15), dan setelah itu Dia di bawa kembali ke tanah Isreal (ay. 19-21). Karena Arkelaus menggantikan ayahnya, Herodes, memerintah atas Yudea, Kristus di bawa ke Nazaret, kota yang terhina di Galilea (ay. 22-23; Yoh. 1:45-46), dan dibesarkan disana.
Dia dilahirkan di kota Betlehem yang dipandang tinggi, tetapi bertumbuh di kota Nazaret yang dipandang rendah. Karena itu, Dia disebut orang Nazaret.
Untuk mengikuti Kristus, kita tidak hanya perlu memperhatikan ayat-ayat Alkitab mengenai Dia, melainkan juga perlu memperhatikan pimpinan yang seketika, seperti yang dialami Yusuf dalam mimpinnya.
Hanya memperhatikan ayat-ayat Alkitab tetapi mengabaikan pimpinan yang seketika, bisa membuat kita kehilangan Kristus, seperti yang dialami oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat orang-orang Yahudi. Untuk mengamati pimpinan yang seketika, diperlukan hati yang mencari (Tuhan).