Showing posts with label Tokoh Dalam Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Dalam Pengetahuan. Show all posts

11.5.07

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta Allah.
Pembacaan Alkitab Yehezkiel 47 ; Wahyu 22. Daniel 7: 9-10



Menurut wahyu dalam Alkitab, kita melihat dua aliran yang mengalir keluar dari takhta Allah. Yang satu aliran air hayat, dan yang lain aliran api.
Aliran air hayat diwahyukan dalam Yehezkiel 47 dan Wahyu 22. Dalam Yehezkiel, air hayat mengalir dari rumah Allah; sedang dalam Wahyu 22, air hayat mengalir dari takhta Allah. Dalam Daniel 7:9-10 kita melihat aliran lain, suatu aliran api, mengalir dari takhta Allah.
Air hayat untuk menghidupkan dan mendiris, sedangkan aliran api untuk menghukum, mengalirkan hukuman ke seluruh semesta. Air sungai itu mengalir keluar dari takhta Allah, akan mengalirkan segala hal yang positif ke Yerusalem Baru.
Aliran api keluar dari takhta Allah dan akan menyapu bersih segala hal negatif ke dalam lautan api.
Dalam awal Alkitab terdapat permulaan dua garis, garis hayat dan garis pengetahuan. Pada akhir Alkitab ada dua hasil, dua penyelesaian — kota air hayat dan lautan api yang menyala-nyala.
Di manakah Anda? Akan ke manakah Anda? Anda pada garis yang mana? Tentu garis hayat adalah garis yang benar dan garis pengetahuan adalah garis yang salah. Sebagai umat tebusan tentu saja kita berada pada garis yang benar yaitu garis hayat.
Namun mungkin saja hidup dan pekerjaan kita, yaitu cara kita hidup dan bekerja bagi Allah, berada pada garis yang salah. Meskipun manusia kita berada pada garis hayat, tetapi hidup dan pekerjaan kita mungkin berada pada garis pengetahuan.
Alkitab sejak mula telah memperingatkan manusia untuk menjauhi garis pengetahuan dan tetap berada atau kembali kepada garis hayat. Sekali kita diselamatkan, kita beroleh selamat selama-lamanya dan keselamatan kita teguh hingga kekal.
Namun, Alkitab memperingatkan kita mengenai hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita bagi Tuhan. Dalam Galatia Paulus memperingatkan kita untuk hidup oleh Roh (5:16) dan menabur dalam Roh (6:7-8). Bila tidak demikian, segala hal yang kita lakukan akan terbakar habis oleh api.
Dalam 1 Korintus 3 Paulus mengingatkan kita, pembangun-pembangun gereja, harus berhati-hati supaya membangun dengan bahan-bahan yang tepat. Jika kita membangun gereja dengan emas, perak, dan batu-batu permata, pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai Yerusalem Baru, sebab Yerusalem Baru adalah kota yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batubatu permata.
Sebaliknya, Paulus juga memperingatkan kita bahwa kayu, rumput, dan jerami hanya patut dibakar (1 Kor. 3:12-15). Semua yang dibangun dengan bahan-bahan itu akan disapu oleh aliran api ke dalam lautan api.
Jadi, kita patut waspada terhadap diri kita, hidup kita, dan pekerjaan kita. Kita sendiri harus berada pada garis yang benar, hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita juga harus berada pada garis yang benar.
Kemudian kita dan pekerjaan kita akan masuk ke dalam Yerusalem Baru. Kita harus sangat jelas mengenai kedua garis ini. (PH B.15)

1. Kain - Mempersembahkan Menurut Cara Sendiri

1. Kain - Mempersembahkan Menurut Cara Sendiri


Kain, anak laki-laki Adam yang pertama dan generasi manusia yang kedua, adalah manusia pertama yang hidup menurut pengetahuan. Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada Tuhan sebagai kurban persembahan (Kej. 4:3).
Meskipun hal ini nampaknya sangat baik, tetapi sesungguhnya salah, karena Kain mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah menurut caranya sendiri, tidak menurut cara Allah.
Cara Allah ialah menghendaki manusia yang telah jatuh mempersembahkan kurban penebusan dosa untuk mengontak Allah. Tetapi Kain hanya mempersembahkan hasil tanah, tidak mempersembahkan darah penebusan dosa. Persembahan Kain adalah menurut apa yang dipikirkannya sendiri, menurut caranya sendiri. Persembahan demikian berasal dari pikiran manusia.
Kita harus berhati-hati. Sebagaimana telah kita bicarakan, prinsip pohon pengetahuan adalah merdeka terhadap Allah. Hal ini berarti kita dengan merdeka membuat keputusan sendiri. Meskipun Kain melakukan suatu hal yang baik, tetapi merdeka terhadap Allah. Akibat dari segala sesuatu yang baik namun tidak bersandar Allah adalah kematian.
Hal ini sama dengan penyekat yang menyumbat aliran listrik. Tak peduli bahan apa yang digunakan sebagai penyekat, mungkin berlian, aliran listrik akan tetap terputus. Masalahnya bukanlah bahan itu baik atau buruk, tetapi hal itu telah menjadi penyekat. Demikian juga jika ada sesuatu yang memisahkan kita dengan Allah, tak peduli betapa baiknya hal itu, tetap mendatangkan maut.
Sebagai akibat perbuatan Kain yang tidak bersandar kepada Allah, Kain pergi dari hadapan TUHAN (Kej. 4:16). Hal ini sungguh menakutkan! Tak peduli bagaimana baiknya kita, asal kita meninggalkan hadirat Allah, itulah celaka! Kita boleh baik atau buruk, tetapi jika kita meninggalkan hadirat Allah, akibatnya akan sama.
Sekali manusia berbuat menurut caranya sendiri dan pergi dari hadapan Allah, lalu mendambakan mendirikan suatu bangunan untuk dirinya sendiri. Kain mendirikan sebuah kota dan diberi nama Henokh, menurut nama anaknya (Kej. 4:17). Kain tidak menamainya menurut nama Allah; ia membuat suatu nama untuk manusia. Inilah suatu pernyataan bahwa manusia merdeka terhadap Allah. (PH. Kej)

2. Nimrod

2. Nimrod


Nimrod adalah seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan Tuhan (Kej. 10:8-11). Dialah orang yang berkuasa di bumi, orang yang mutlak merdeka terhadap Allah. Ia membangun kerajaan untuk dirinya sendiri, dan Babel itulah permulaan kerajaannya. Banyak orang Kristen mengetahui tentang manusia membuat menara dan kota Babel, namun sedikit sekali mengetahui bahwa kerajaan Babel didirikan oleh Nimrod.
Dalam sejarah manusia, kerajaan pertama mungkin adalah kerajaan Babel yang didirikan oleh Nimrod, yang juga pendiri kota besar Niniwe di Asyur. Bangunannya menandakan bahwa manusia sepenuhnya merdeka terhadap Allah.
Berkebalikan dengan itu, Abraham tidak mendirikan menara apa pun kecuali mezbah kecil. Ia tinggal di kemah. Demikian juga Nuh tidak mendirikan apa pun selain sebuah bahtera dan mezbah.
Orang yang bersandar kepada Tuhan tidak mengerjakan banyak aktivitas pembangunan. Makin kita menaruh keyakinan kepada Allah, akan makin sedikit kita mempunyai bangunan merdeka. Hanya pekerja-pekerja raksasa yang tidak bersandar kepada Allah, yang mau membangun menara-menara tinggi mereka. (PH. Kej)

3. Orang-Orang di Babel

3. Orang-Orang di Babel


Orang-orang di Babel mengadakan perundingan (Kej. 11:3). Mereka tidak berdoa atau bertanya kepada Tuhan apa yang harus dilakukan atau ke mana harus pergi. Sejarah manusia merupakan suatu sejarah dewan. Setelah Perang Dunia I, dibentuklah Liga Bangsa-bangsa dan liga ini sesungguhnya adalah suatu dewan. Setelah Perang Dunia II berakhir, Liga Bangsa-bangsa diubah menjadi Persatuan Bangsa-bangsa yang memiliki bangunan megah di New York, dan hampir setiap hari mengadakan konferensi. Dewan-dewan manusia semacam itu mutlak merdeka terhadap Allah. Akibat dewan di Babel itu ialah membangun sebuah menara tinggi bagi nama manusia, dan mendirikan sebuah kota bagi milik manusia. (PH. Kej)

4. Lot

4. Lot

Walaupun Lot adalah seorang yang beroleh selamat, namun ia terhanyut keluar dari garis hayat, karena ia memilih menurut pandangannya sendiri (Kej. 13:10-11; cf. 14-15). Ketika Lot memisahkan diri dari Abraham, ia melayangkan pandangannya seraya melihat lembah Yordan dan membuat keputusan menurut pandangannya sendiri. Ia tidak berdoa, "Tuhan, aku tak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku harus bagaimana? Tuhan, belaskasihanilah aku. Biar Engkau saja yang memilih. Aku ingin Engkau yang memilihkan." Lot tidak berdoa demikian, tetapi memilih menurut pandangannya sendiri. Akibatnya, ia pindah ke Sodom, kota kejahatan (Kej. 13:12-13; cf. ayat 18).
Ingat, kapan Anda memilih jalan merdeka terhadap Allah, niscaya jalan Anda akan terus menurun. Jalan Anda akan mengarah ke Sodom, kota yang penuh dosa. (PH. Kej)

5. Esau

5. Esau


Jika kita membaca sejarah Esau, kita tahu bahwa ditinjau dari norma-norma kehidupan, ia tidak melakukan apa-apa. Yakublah yang malahan lebih buruk. Tetapi sebagai seorang pemburu, Esau berburu untuk kepuasannya sendiri (Kej. 25:27, 29).
Esau berburu tidak bersandar kepada Allah, akhirnya untuk memuaskan seleranya, ia menjual hak kesulungannya (Kej. 2:30-34). Semua orang yang merdeka terhadap Allah sudah menjual hak kesulungannya, yaitu kenikmatan akan Allah. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya agar menjadi ekspresi-Nya, berarti manusia sejak lahir telah berhak mengekspresikan Allah.
Jadi setiap orang sejak lahir mempunyai hak untuk mengekspresikan Allah. Tetapi setiap orang telah menjual hak kesulungannya karena merdeka dari Allah.
Apakah maksudnya bertobat dan percaya Tuhan Yesus? Bertobat berarti memalingkan angan-angan kita, pikiran kita. Dahulu membelakangi Allah, tetapi setelah mendengar Injil, kita berbalik menghadap Allah.
Percaya Tuhan Yesus artinya kembali kepada hak sulung manusia kita, kembali kepada kenikmatan akan Allah dan mengekspresikan Allah. Inilah arti bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Esau tidak demikian, sebaliknya bergerak pada arah yang berlawanan. (PH. Kej)

6. Harun

6. Firaun


Dalam kitab Keluaran 1-12, kita melihat betapa Firaun itu seorang yang merdeka terhadap Allah. Ia bukan saja merdeka terhadap Allah, bahkan membangkang terhadap Allah. Ia pernah bertanya, "Siapakah Allah?" (Kel. 5:2). Firaun tidak mempedulikan Allah dan ia tidak mau tahu tentang Allah.
Jadi hati Firaun degil, ia mengeraskan hatinya dan karena itu Allah pun mengeraskan hatinya (Kel. 7:13, 22; 8:15, 19, 32; 9:34-35). Sekali demi sekali hati Firaun bertambah keras. Hari ini hati manusia di seluruh dunia mengeras karena mereka tidak mempedulikan Allah.
Mereka memperhatikan dewan-dewan, rencana-rencana, siasat-siasat mereka, tetapi tidak mempedulikan Allah. Karena itu Allah pun membiarkan mereka dan hati mereka menjadi keras. (PH. Kej)

7. Harun

7. Harun


Nama Harun adalah nama yang baik. Walaupun ia seorang Imam Besar dan berada pada garis hayat, namun Harun bertindak menurut garis pengetahuan. Ketika Musa di gunung menikmati Allah sebagai pohon hayat, Harun dan orang-orang Israel berada di kaki gunung. Mereka tidak berdoa juga tidak menengadah kepada TUHAN.
Ketika umat itu mengusulkan kepada Harun untuk membuat ilah dari emas bagi mereka, ia mengabulkan permintaan mereka (Kel. 32:1, 4, 24).
Kadangkala kita tidak seharusnya mendengarkan perkataan orang-orang, karena perhimpunan itu mungkin mengusulkan suatu anjuran yang menentang Allah. Harun menerima anjuran mereka untuk membuat patung dari emas tanpa bertanya kepada Allah lebih dulu.
Patung itu sangat menarik, bukan dari tanah liat, melainkan dari emas. Sewaktu Musa turun dari puncak gunung, ia bertanya kepada Harun apa yang terjadi. Harun menjawab bahwa ia melemparkan emas ke dalam api, dan keluarlah lembu emas itu (Kel. 32:24).
Harun seolah-olah hendak membela dirinya sendiri, agar Musa jangan menyalahkannya; jelas ia menganggap dirinya tidak berbuat keterlaluan.
Tetapi selama kita merdeka terhadap Allah, tak peduli kita berbuat banyak atau sedikit, atau sama sekali tidak berbuat apa-apa, anak lembu emas itu tetap akan muncul. Kita tidak perlu melakukan banyak, asal tidak bersandar kepada Allah, akibatnya muncul anak lembu emas. (PH. Kej)

8. Nadab dan Abihu

8. Nadab dan Abihu


Nadab dan Abihu mempersembahkan kepada Allah api asing dengan ukupan mereka (Im. 10:1-2). Meskipun ukupan itu baik, tetapi api itu asing, bukan api yang diambil dari mezbah penebusan dosa.
Api yang mereka gunakan itu dapat diterima oleh konsepsi mereka, tetapi api itu asing bagi Allah.
Api yang asing itu adalah menurut cara mereka sendiri, tidak menurut wahyu Allah, karena itu mendatangkan maut atas diri mereka. (PH. Kej)

9. Miryam dan Harun

9. Miryam dan Harun


Miryam dan Harun mengatai Musa karena Musa mengambil seorang perempuan Kusy (Bil. 12:1-2). Jelas, dalam hal ini Musa memang bersalah. Namun Miryam dan Harun menentang Musa, bukan karena akibat mengontak Allah, tetapi karena motivasi mereka sendiri. Sumber penentangan mereka terhadap Musa bukan dari Allah, melainkan dari mereka sendiri, dari pengetahuan mereka. Hal ini mendatangkan amarah Allah kepada mereka, menyebabkan Miryam kena kusta dan selama 7 hari dikucilkan di luar tempat perkemahan (Bil. 12:9-15).
Catatan Alkitab memberi tahu kita bahwa hanya satu pimpinan yang selamanya tidak pernah salah — yaitu pimpinan Tuhan Yesus. Pimpinan lain ada saja kekurangannya. Berbeda dengan pimpinan Tuhan Yesus, semua pimpinan lain selalu ada kesalahannya. Meskipun demikian, kita harus sangat hati-hati untuk tidak melontarkan serangan, sekalipun orang yang memimpim itu salah. (PH. Kej)

10. Sepuluh Pengintai

10. Sepuluh Pengintai



Kegagalan sepuluh pengintai itu ialah mereka melihat situasi negeri itu dari sudut pandangan mereka sendiri (Bil. 13:28, 32-33). Ketika mereka mengintai negeri itu, mereka melihat raksasa-raksasa dan kota-kotanya berkubu, lalu mereka takut.
Mereka tidak memalingkan pandangan mereka kepada Allah, seperti Yosua dan Kaleb. Mereka gagal karena mereka bersandar kepada pengetahuan mereka, dan mereka menolak bersandar kepada Tuhan (cf. Bil. 13:30; 14:6-9).
Bila Anda berada dalam situasi yang sulit, janganlah menyelidikinya menurut pandangan Anda sendiri. Berbuat demikian hanya akan memalingkan Anda dari Allah. Dalam keadaan sulit, hendaklah Anda menutup mata, di dalam roh berpaling kepada Allah sambil berdoa kepada-Nya. Dengan demikian Anda akan tertolong.
Karena sepuluh pengintai itu melihat keadaan itu melalui pandangan mereka sendiri, maka mereka tidak bersandar kepada Tuhan seperti halnya Kaleb dan Yosua.
Yosua dan Kaleb seolah memberi tahu orang-orang, "Lupakanlah keadaan itu dan bersandarlah kepada Tuhan. Tuhan lebih tinggi daripada kubu-kubu kota dan lebih besar daripada semua raksasa."
Perbedaan di antara sepuluh pengintai dengan Yosua dan Kaleb ialah yang dua orang bersandar kepada Tuhan dan yang sepuluh menyelidiki keadaan kota itu demi pengertian mereka sendiri, yaitu menanggapi seturut pengetahuan mereka sendiri. (PH. Kej)

11. Korah dan Rombongannya

11. Korah dan Rombongannya


Korah dan rombongannya menyerang kekuasaan perwakilan Allah (Bil. 16:1-3). Setiap penyerangan terhadap kekuasaan Allah, baik yang beralasan maupun yang tanpa alasan, bersumber dari pikiran manusia sendiri.
Hari ini dalam gereja, prinsipnya sama. Mungkin Anda menyerang para pemimpin karena Anda merasa mereka "berbuat keterlaluan", tetapi serangan Anda yang bersumber dari pikiran manusia membawakan kematian rohani bagi Anda.
Korah dan rombongannya menderita kematian oleh karena mereka menyerang kekuasaan Allah.
Mungkin Anda mengira menyerang pemimpin-pemimpin gereja adalah benar, tetapi Anda harus tahu akibatnya — kematian atau hayat? Jika Anda sungguh-sungguh benar, akibat serangan Anda tentu hayat.
Saya dapat bersaksi bahwa di masa lampau, saya pernah melihat beberapa serangan terhadap pimpinan dalam gereja, namun setiap serangan itu telah membawa kebinasaan bagi si penyerang sendiri. Alangkah serius!
Anda harus bertanya kepada diri sendiri, "Apakah seranganku berasal dari roh, dari takhta Allah atau dari pikiranku?" Menyerang kekuasaan perwakilan Allah, tak peduli apa alasannya, berarti berada pada garis pengetahuan yang menghasilkan maut.
Penyerangan Korah dan rombongannya dikarenakan fakta bahwa mereka mengabaikan penyertaan Allah (Bil. 16:19). Jika mereka mengindahkan penyertaan Allah, mereka akan tertolong dari perkara serangan mereka terhadap Musa dan Harun. Mereka akan berpaling dari garis pengetahuan ke garis hayat. (PH. Kej)

12. Saul

12. Saul

Saul tidak melakukan dosa amoral seperti Daud. Tetapi ia menumpas musuh menurut kesenangannya (1 Sam. 15:8).
Allah memberi tahu dia untuk menumpas semua musuhnya, tetapi Saul menyisakan beberapa yang baik menurut pandangannya. Saul bertindak berdasarkan diri sendiri, tanpa menuruti Tuhan (1 Sam. 15:11, 22-23).
Akibat dari perbuatan yang tidak bersandar kepada Allah ini, Saul kehilangan takhta dan kerajaannya.(PH. Kej)

13. Absalom

13. Absalom


Absalom memberontak terhadap ayahnya, raja Daud (2 Sam. 15:10-13). Menurut catatan 2 Samuel 13-18, ia seorang yang mutlak bertindak menurut dirinya sendiri dan pengetahuannya sendiri.
Dia tidak bersandar kepada Allah, dan akibatnya tak lain adalah maut. (PH. Kej)

14, Ahab - Sama Sekali Merdeka Terhadap Allah

14. Ahab


Ahab adalah seorang raja yang jahat. Ia mengawini Izebel; seorang perempuan milik Iblis, penyembah berhala, dan membuat mezbah untuk Baal, berhala yang paling ternama waktu itu (1 Raj. 16:30-32).
Meskipun Ahab dilahirkan di tengah-tengah bangsa milik Allah, namun ia lebih rusak daripada orang yang tidak bersandar kepada Allah.
Sedikit pun tidak mempunyai pikiran terhadap Allah. Sama sekali merdeka terhadap Allah. (PH. Kej)

14. Ahab

14. Ahab


Ahab adalah seorang raja yang jahat. Ia mengawini Izebel; seorang perempuan milik Iblis, penyembah berhala, dan membuat mezbah untuk Baal, berhala yang paling ternama waktu itu (1 Raj. 16:30-32).
Meskipun Ahab dilahirkan di tengah-tengah bangsa milik Allah, namun ia lebih rusak daripada orang yang tidak bersandar kepada Allah.
Sedikit pun tidak mempunyai pikiran terhadap Allah. Sama sekali merdeka terhadap Allah. (PH. Kej)

15. Imam-Imam Kepala dan Ahli-Ahli Taurat

15. Imam-Imam Kepala dan Ahli-Ahli Taurat


Sekarang sampailah kita pada Perjanjian Baru. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mengetahui Alkitab. Ketika raja Herodes menanyakan di mana Kristus akan dilahirkan, mereka segera bisa memberi jawaban (Mat. 2:4-6).
Pengetahuan Alkitab tidak ada salahnya, namun hanya memegang pengetahuan Alkitab seperti imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, itu berbahaya sekali. Mereka tahu bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem, tetapi tak seorang pun dari mereka yang pergi ke sana. Hal ini membuktikan bahwa mereka berada di garis pengetahuan, tidak pada garis hayat.
Orang-orang majus dari Timur, yang tidak mempunyai pengetahuan Alkitab, berada pada garis hayat. Mengikuti bintang di langit, mereka datang ke tempat Kristus berada dan menyembah-Nya.
Jelaslah, orang-orang majus dari negeri kafir mempunyai hayat, sedangkan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mempunyai pengetahuan Alkitab, tetapi akibat dari pengetahuan mereka itulah maut.
Pengetahuan tidak bisa memberikan hayat. (PH. Kej)

16. Nikodemus

16. Nikodemus


Nikodemus adalah orang yang baik. Namun ketika pertama kali ia datang kepada Tuhan, ia berada pada garis pengetahuan (Yoh. 3:1-2). Ia berkata kepada Yesus, "Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah.." Dalam jawaban-Nya, Tuhan memalingkan Nikodemua dari pengajaran dan pengetahuan ke garis hayat (Yoh. 3:3). Tuhan seolah-olah memberi tahu Nikodemus, "Kamu tidak perlu pengajaran. Kamu perlu kelahiran baru dan hayat baru. Nikodemus, kamu tidak perlu pengetahuan yang lebih banyak. Sebagai guru Taurat Musa, kamu sudah cukup berpengetahuan. Apa yang kamu perlukan adalah hayat baru." (PH. Kej)

17. Perempuan Samaria

17. Perempuan Samaria

Sekalipun perempuan Samaria ini adalah orang yang amoral, dia tetap beragama. Dia mempunyai pengetahuan agama yang tradisional, tetapi dia hidup dalam dosa tanpa kepuasan (Yoh. 4:15-20).
Hal ini membuktikan bahwa agama tidak dapat menolong manusia. Perempuan Samaria berada pada garis pengetahuan. Tuhan Yesus memimpin dia kepada Allah, Roh itu, sebagai air hayat bagi kepuasannya (Yoh. 4:21-24, 14).
Walaupun dia berada pada garis pengetahuan, Tuhan memalingkannya ke garis hayat. (PH. Kej)

18. Para Penganut Agama Yahudi

18. Para Penganut Agama Yahudi


Sekarang kita tiba pada para penganut agama Yahudi. Menurut Yohanes 5, Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang telah sakit selama 38 tahun. Hal ini terjadi pada hari Sabat, sebab itu orang-orang Yahudi merasa tersinggung (Yoh. 5:1-16). Mereka hanya mempedulikan hari Sabat, tetapi tidak mempedulikan perhentian yang sejati orang lain. Orang lumpuh tadi sudah 38 tahun tidak mempunyai perhentian, bahkan pada hari Sabat pun. Baru setelah Tuhan Yesus menyembuhkannya, ia mengalami perhentian yang sejati. Orang-orang Yahudi menyalahkan Tuhan Yesus. Lalu Ia berkata kepada mereka, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal . . . namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu" (ayat 39-40). Dengan perkataan lain, Tuhan memberi tahu mereka bahwa mereka menyelidiki Alkitab karena mereka mengira di dalamnya ada hayat yang kekal, namun mereka tidak mau datang kepada Tuhan untuk mendapat hayat sejati itu.
Prinsipnya sama dengan yang terjadi pada orang-orang hari ini. Banyak orang Kristen menyelidiki Alkitab dengan anggapan di dalamnya ada hayat yang kekal, namun mereka tidak mau datang mengontak Tuhan yang hidup itu. Mungkin saja kita membaca banyak ayat dan pasal dalam Alkitab tanpa mengontak Tuhan. Jangan kita sekali-kali memisahkan pembacaan Alkitab kita dengan berkontak dengan Tuhan. Dua hal ini haruslah satu. Setiap kali kita membaca Alkitab, kita harus berkata, "Tuhan Yesus, biarlah aku mengontak Engkau dalam firman kudus ini. Tuhan Engkau adalah firman hidup. Tanpa Engkau sebagai firman hidup, aku tak dapat menerima hayat dari kata-kata itu. Tuhan, aku harus mengontak Engkau. Meskipun Engkau sangat misterius, aku memuji Engkau, karena Engkau telah memberiku firman yang dapat dijamah. Firman ini solid, kukuh, dan konkret. Aku berterima kasih atas firman yang dapat kudoa-bacakan itu. Tetapi, Tuhan, yang kubutuhkan bukanlah tulisan-tulisan hitam di atas putih, melainkan diri-Mu sendiri, Sang Roh hayat." Inilah cara menggunakan Alkitab yang benar.
Sekali-kali jangan merdeka terhadap Tuhan sewaktu mengontak Alkitab. Anda tidak perlu membaca buku novel yang amoral untuk mengalami maut. Jika Anda membaca Alkitab tanpa di dalam roh, Anda juga akan mengalami maut. Jadi, bahkan membaca Alkitab pun bisa berada pada garis pengetahuan yang menuju kepada maut. (PH. Kej)