Showing posts with label Tokoh Dalam Hayat. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Dalam Hayat. Show all posts

12.5.07

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta Allah.

Pembacaan Alkitab Yehezkiel 47 ; Wahyu 22. Daniel 7: 9-10



Menurut wahyu dalam Alkitab, kita melihat dua aliran yang mengalir keluar dari takhta Allah. Yang satu aliran air hayat, dan yang lain aliran api.
Aliran air hayat diwahyukan dalam Yehezkiel 47 dan Wahyu 22. Dalam Yehezkiel, air hayat mengalir dari rumah Allah; sedang dalam Wahyu 22, air hayat mengalir dari takhta Allah. Dalam Daniel 7:9-10 kita melihat aliran lain, suatu aliran api, mengalir dari takhta Allah.
Air hayat untuk menghidupkan dan mendiris, sedangkan aliran api untuk menghukum, mengalirkan hukuman ke seluruh semesta. Air sungai itu mengalir keluar dari takhta Allah, akan mengalirkan segala hal yang positif ke Yerusalem Baru.
Aliran api keluar dari takhta Allah dan akan menyapu bersih segala hal negatif ke dalam lautan api.
Dalam awal Alkitab terdapat permulaan dua garis, garis hayat dan garis pengetahuan. Pada akhir Alkitab ada dua hasil, dua penyelesaian — kota air hayat dan lautan api yang menyala-nyala.
Di manakah Anda? Akan ke manakah Anda? Anda pada garis yang mana? Tentu garis hayat adalah garis yang benar dan garis pengetahuan adalah garis yang salah. Sebagai umat tebusan tentu saja kita berada pada garis yang benar yaitu garis hayat.
Namun mungkin saja hidup dan pekerjaan kita, yaitu cara kita hidup dan bekerja bagi Allah, berada pada garis yang salah. Meskipun manusia kita berada pada garis hayat, tetapi hidup dan pekerjaan kita mungkin berada pada garis pengetahuan.
Alkitab sejak mula telah memperingatkan manusia untuk menjauhi garis pengetahuan dan tetap berada atau kembali kepada garis hayat. Sekali kita diselamatkan, kita beroleh selamat selama-lamanya dan keselamatan kita teguh hingga kekal.
Namun, Alkitab memperingatkan kita mengenai hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita bagi Tuhan. Dalam Galatia Paulus memperingatkan kita untuk hidup oleh Roh (5:16) dan menabur dalam Roh (6:7-8). Bila tidak demikian, segala hal yang kita lakukan akan terbakar habis oleh api.
Dalam 1 Korintus 3 Paulus mengingatkan kita, pembangun-pembangun gereja, harus berhati-hati supaya membangun dengan bahan-bahan yang tepat. Jika kita membangun gereja dengan emas, perak, dan batu-batu permata, pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai Yerusalem Baru, sebab Yerusalem Baru adalah kota yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batubatu permata.
Sebaliknya, Paulus juga memperingatkan kita bahwa kayu, rumput, dan jerami hanya patut dibakar (1 Kor. 3:12-15). Semua yang dibangun dengan bahan-bahan itu akan disapu oleh aliran api ke dalam lautan api.
Jadi, kita patut waspada terhadap diri kita, hidup kita, dan pekerjaan kita. Kita sendiri harus berada pada garis yang benar, hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita juga harus berada pada garis yang benar.
Kemudian kita dan pekerjaan kita akan masuk ke dalam Yerusalem Baru. Kita harus sangat jelas mengenai kedua garis ini. (PH B.15)

1. Habel - Mengontak Allah Menurut Cara Allah

1. Habel — Mengontak Allah Menurut Cara Allah


Ciri-ciri kehidupan Habel ialah mengontak Allah menurut cara Allah (Kej. 4:4). Jangan berkata bahwa asal Anda mengontak Allah maka segala sesuatunya pasti benar. Menurut cara siapakah Anda mengontak Allah — menurut cara Allah atau cara Anda? Ada tiga golongan orang yang menyatakan bahwa mereka mengontak Allah : Orang Yahudi, orang agama tertentu, dan orang Kristen. Orang Yahudi mengontak Allah menurut cara mereka sendiri. Sesuai dengan Roma 10:2-3, orang Yahudi berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, tidak takluk kepada kebenaran Allah. Ini berarti mereka mengontak Allah menurut cara mereka sendiri. Orang yang beragama tertentu bahkan lebih bergairah menyembah Allah dengan cara mereka sendiri. Jika Anda mengunjungi tempat ibadah mereka, Anda akan melihat bahwa mereka nampaknya sangat saleh beribadah dengan bersujud menyembah Allah. Demikian pula banyak orang yang disebut Kristen, melakukan pelayanan mereka kepada Allah menurut cara mereka sendiri, tidak melalui penebusan Kristus, juga tidak di dalam Roh.
Bersumber pada apakah manusia mengontak Allah dengan caranya sendiri? Sumbernya ialah pikiran manusia yang merepotkan, yang tidak menghasilkan apa pun kecuali pengetahuan. Akibatnya, manusia mengontak Allah menu-rut cara pengetahuan, tidak menurut cara hayat. Tetapi Habel mengontak Allah menurut cara Allah. Dalam berita berikutnya kita akan melihat Kain, kakaknya, mengontak Allah menurut caranya sendiri. Cara Allah ialah hayat; cara Kain ialah pengetahuan. Kita semua perlu hati-hati. Anda boleh saja berkata bahwa Anda bagi Allah, namun mungkin Anda hanyalah bagi Allah menurut cara Anda sendiri. Anda menghampiri Allah menurut cara penemuan Anda sendiri, namun cara itu mutlak adalah pengetahuan. Janganlah mengikuti cara itu. Kita harus melihat teladan Habel dan mengontak Allah dengan mengesampingkan pikiran, pendapat, dan konsepsi kita. "Ya Tuhan, aku mengontak diri-Mu menurut cara-Mu. Aku tidak mengontak Engkau berdasarkan pikiran, konsepsi, atau pengetahuanku. Tuhan, Engkaulah caraku." Jika demikian, kita pasti menikmati Allah sebagai pohon hayat. Habel sungguh menikmati Allah sebagai pohon hayat. Dia benar-benar telah makan buah pohon ini. (PH.Kej)

2. Set dan Enos - Menyeru Nama Tuhan

2. Set dan Enos — Menyeru Nama TUHAN


Mungkin nama Set dan Enos asing bagi kita. Set dan Enos adalah generasi manusia yang ketiga dan keempat, tetapi Alkitab menganggapnya sebagai satu generasi. Setelah Habel dibunuh, garis hayat seolah-olah telah berakhir. Namun Set dan Enos telah dibangunkan untuk meneruskannya.
Dua generasi ini mempunyai satu ciri yang mencolok — mereka mulai memanggil nama TUHAN (Kej. 4:26). (Istilah "memanggil" di sini, menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan sebagai "menyeru". red.). Tidak saja mereka berdoa, tetapi juga menyeru nama TUHAN. Jika Anda membaca Alkitab asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani, Anda akan melihat bahwa arti kata "menyeru" tidak hanya berdoa, bahkan memanggil dengan suara lantang.
Walaupun semua orang Kristen berdoa, namun sedikit yang berdoa dengan menyeru. Kebanyakan orang Kristen berdoa dengan sangat khusuk, bahkan berdoa dalam hati. Tetapi generasi manusia yang ketiga dan keempat sudah tahu bahwa mengontak Allah perlu memanggil-Nya, berseru kepada-Nya. Janganlah mendebat bahwa Allah tidak tuli, Ia dapat mendengar kita. Bahkan Tuhan Yesus sandiri berdoa dengan ratap tangis di taman (Ibr. 5:7).
Sepanjang zaman Set dan Enos, manusia belajar berdoa kepada Allah dengan berseru kepada-Nya. Jika Anda mencobanya, Anda akan menemukan suatu perbedaan. Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan adalah kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya (Rm. 10:12). Jika Anda ingin menikmati kelimpahan Tuhan, Anda perlu menyeru nama-Nya.
Misalkan Anda sedang membantu seorang yang baru percaya untuk menjamah Tuhan dalam doa. Dia berdoa (dengan suara lembut) : "Tuhan Yesus, Engkaulah Putra Allah. Engkau mati bagiku. Aku menerima Engkau sebagai juruselamatku. Aku berterima kasih kepada-Mu." Walaupun ini adalah suatu doa yang baik, tetapi lebih baik Anda membantunya berseru kepada Tuhan dengan nyaring. Jika dia berkata (dengan nyaring) : "Oh, Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mati bagiku." Rohnya akan tergugah dan ia akan menjamah Tuhan secara hidup.
Meskipun generasi manusia yang ketiga dan keempat menemukan cara menyeru nama Tuhan, akan tetapi cara menyeru kepada-Nya ini lambat laun makin lenyap. Banyak orang Kristen hari ini mengabaikannya, bahkan meremehkannya. Meskipun demikian, tak seorang Kristen pun yang dapat meloloskan dirinya dari menyeru nama Tuhan. Sewaktu tenteram dan tidak ada kesulitan, mungkin Anda dapat menahan untuk berdiam diri, segan menyeru nama Tuhan, takut kehilangan muka. Namun ketika Anda dilanda kesusahan, entah itu kecelakaan mobil atau mendadak sakit, dengan spontan Anda akan berseru kepada-Nya, "Oh, Tuhan!" Kita tidak perlu mengajar orang menyeru nama Tuhan. Suatu hari, mereka akan berseru kepada-Nya. Ketika kesulitan menimpa, niscaya mereka akan merasa perlu menyeru nama-Nya. Menyeru nama Tuhan berarti menikmati-Nya dan makan Dia sebagai pohon hayat. (PH. Kej)

3. Henok - Hidup Bergaul Dengan Allah

3. Henokh — Hidup Bergaul dengan Allah


Ciri-ciri hidup Henokh ialah hidup bergaul dengan Allah (Kej. 5:22, 24). Kita tidak diberi tahu bahwa dia bekerja bagi Allah atau melakukan hal-hal yang besar bagi Allah, tetapi dia hidup bergaul dengan Allah. Hal ini sangat berarti. Untuk hidup bergaul dengan seseorang, Anda harus menyukainya. Jika saya tidak menyukai Anda, saya tidak akan bergaul dengan Anda. Mula-mula saya menyukai Anda, lalu mencintai Anda, dan kemudian saya akan bergaul terus dengan Anda.
Fakta Henokh hidup bergaul dengan Allah membuktikan bahwa ia mencintai Allah. Ia senang hidup di hadirat Allah. Tuhan Yesus mencela gereja di Efesus karena mereka banyak bekerja bagi Allah, namun telah meninggalkan kasih yang semula (Why. 2:2-4). Tuhan tidak ingin melihat begitu banyak pekerjaan baik. Ia hanya ingin melihat kasih kita kepada-Nya.
Misalnya, seorang Istri melakukan banyak pekerjaan yang baik untuk suaminya, tetapi tidak pernah tinggal di hadapan suaminya. Tentu saja sang suami akan berkata, "Aku tak ingin kau sibuk, namun jauh dariku. Aku menginginkan seorang istri yang senantiasa bersamaku."
Henokh hidup bergaul dengan Allah. Jika kita membaca Kejadian 5:21-24 dengan teliti, kita akan melihat bahwa Henokh mulai hidup bergaul dengan Allah pada usia 65 dan terus bergaul dengan-Nya selama 300 tahun. Hari demi hari ia bergaul dengan Allah sampai 300 tahun lamanya. Akhirnya Allah seolah-olah berkata, "Henokh, kau telah hidup bergaul dengan-Ku cukup lama. Biarlah Aku mengangkatmu kepada-Ku."
Banyak orang Kristen sangat senang membicarakan perihal kedatangan Tuhan dan pengangkatan orang Kristen. Namun tahukah Anda bahwa pengangkatan itu memerlukan orang mengasihi Tuhan dan hidup di hadirat-Nya? Kita perlu mencintai Tuhan. "Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu. Aku mau hidup di hadirat-Mu. Aku mau hidup bergaul dengan-Mu karena aku mencintai-Mu." Sikap cinta ini adalah persiapan, syarat, dan dasar pengangkatan.
Berdasarkan apakah Henokh diangkat? Ia diangkat berdasarkan hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun. Henokh memberi kita teladan yang sangat baik. (PH.Kej)

4.Nuh - Hidup Bergaul Dengan Allah

4. Nuh — Hidup Bergaul dengan Allah


Nuh mengikuti langkah-langkah Henokh, juga hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9). Sesungguhnya ia hidup bergaul dengan Allah lebih dari 300 tahun. Karena Nuh hidup bergaul dengan Allah, maka Allah menunjukkan kepadanya suatu visi mengenai apa yang ingin Ia lakukan dalam zaman itu. Nuh menerima visi bahtera, guna menyelamatkan 8 orang dari suku bangsa yang telah jatuh.
Seperti Nuh, kita tidak boleh berbuat menurut konsepsi kita. Apa yang kita lakukan harus menurut visi yang kita terima sewaktu kita bergaul dengan Tuhan. Dalam pergaulan kita sehari-hari dengan Tuhan, kita pasti mengerti maksud hati-Nya, pikiran-Nya, dan kehendak-Nya. Demikian, kita akan bekerja dan melayani menurut maksud hati Allah, bukan menurut pikiran kita sendiri.
Nuh menikmati Allah dengan jalan hidup bergaul dengannya. (PH. Kej)

5. Abraham - Hidup Dalam Penampakan Allah dan Menyeru Nama Tuhan

5. Abraham — Hidup dalam Penampakan Allah
dan Menyeru Nama Tuhan


Abraham lebih menonjol daripada Nuh. Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam Pelajaran-Hayat Surat Roma, Abraham telah ditransfusi dengan penampakan kemuliaan Allah. Ketika Abraham berada di Ur-Kasdim, Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya dan telah menariknya (Kis. 7:2). Menurut catatan dalam Kejadian, Allah pernah beberapa kali menampakkan diri kepada Abraham (Kej. 12:7; 17:1; 18:1). Abraham sendiri bukanlah raksasa iman, dia lemah seperti kita. Allah yang Mahamulia berkali-kali menampakkan diri kepada Abraham, dan setiap kali unsur-unsur kudusnya ditransfusikan ke dalamnya, supaya ia bisa hidup demi iman Allah. Pengalaman Abraham mengingatkan kita kepada baterai yang bekerja dengan baik setelah diisi, tetapi perlu diisi kembali setelah beberapa saat. Mempelajari sejarah Abraham menurut penampakan diri Allah kepadanya sangatlah menarik. Allah memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim dan memimpinnya dengan berkali-kali menampakkan diri kepadanya. Sebagaimana telah saya sebutkan, ketika Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan Ur-Kasdim, Ia tidak memberinya peta atau petunjuk-petunjuk lain. Abraham berjalan menurut penampakan Allah. Di mana penampakan Allah, ke sanalah Abraham pergi. Dengan jalan demikian Abraham menikmati kelimpahan Allah.
Selain penampakan diri Allah, Abraham juga menyeru nama Tuhan (Kej. 12:7-8). Anak Abraham, Ishak, dan cucunya, Yakub, juga menyeru nama Tuhan. Karena ketiga generasi ini sama, maka Allah disebut Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Hal ini berarti bahwa Allah adalah Allah umat-Nya yang hidup dalam penampakan-Nya dan yang menyeru nama-Nya. Karena Abraham hidup dalam penampakan Allah dan menyeru nama-Nya, maka Abraham menikmati-Nya sebagai pohon hayat. Menurut Kejadian 18, Allah menampakan diri kepada Abraham ketika ia duduk di depan pintu kemahnya, dan Ia tinggal bersamanya selama setengah hari, bahkan makan bersamanya. Sebab itu, Alkitab mengatakan bahwa Abraham adalah sahabat Allah (Yak. 2:23). Dalam Kejadian 18, Allah dan Abraham bercakap-cakap dan makanbersama seperti sahabat.
Tentu saja kita semua ingin mempunyai kenikmatan akan Tuhan yang demikian. Namun bagian kita hari ini jauh lebih baik daripada pengalaman Abraham dalam Kejadian 18. Menurut Wahyu 3:20, Tuhan Yesus sedang mengetuk di depan pintu. Siapa saja mendengar suara-Nya dan membuka pintu, Tuhan akan masuk ke dalamnya dan makan bersamanya. Hari demi hari kita boleh berpesta dengan Tuhan. Abraham makan dengan Tuhan kira-kira setengah hari, tetapi kita bisa berpesta dengan Tuhan terus-menerus. Kita bisa bertemu dengan Tuhan pada makan pagi, makan siang, dan makan malam. Bagian kita lebih tinggi dan lebih limpah daripada bagian Abraham.
Abraham menikmati Allah sebagai pohon hayat. Apakah pohon hayat itu? Pohon hayat ialah suplai hayat yang mempertahankan hidup kita di hadirat Allah. Demikianlah Abraham menikmati Allah. (PH Kej.)

6. Ishak - Hidup Dalam Penampakan Allah dan Menyeru Nama Tuhan

6. Ishak — Hidup dalam Penampakan Allah
dan Menyeru Nama Tuhan



Ishak, anak laki-laki Abraham, mengontak Allah dengan jalan yang sama seperti ayahnya. Ia hidup dalam penampakan Allah dan menyeru nama Tuhan (Kej. 26:2, 24-25). Ia tidak saja mewarisi semua berkat dari ayahnya, tetapi juga jalan untuk menikmati Allah. (PH. Kej)

7. Yakub - Hidup Dalam Penampakan Allah dan Menyeru Nama Tuhan

7. Yakub — Hidup dalam Penampakan Allah
dan Menyeru Nama Tuhan


Yakub, sebagai generasi ketiga dari umat terpanggil, akhirnya dipimpin Allah sampai tidak lagi hidup menurut cara perampasannya, melainkan menurut cara yang sama dengan kakek dan ayahnya dalam mengontak Allah.
Setelah ditanggulangi oleh Allah sejangka waktu yang panjang, ia belajar hidup dalam penampakan Allah dan menyeru nama Tuhan (Kej. 35:1, 9; 48:3). Baginya, jalan ini tidak saja merupakan jalan warisan, tetapi juga jalan di mana ia dipimpin oleh pendisiplinan Allah. (PH. Kej)

8. Musa - Hidup Dalam Penampakan dan Penyertaan Tuhan

8. Musa — Hidup dalam Penampakan dan Penyertaan Allah


Musa adalah orang yang sangat menarik. Ia dilahirkan pada waktu orang-orang Israel berada di bawah penganiayaan orang-orang Mesir. Allah dengan kedaulatan-Nya meletakkan dia di istana Firaun, dan dia dibesarkan sebagai salah seorang anggota keluarga kerajaan, sebagai anak laki-laki putri Firaun. Musa mendengar penderitaan bangsanya di bawah kekuasaan orang-orang Mesir, mungkin mendengarnya dari inang pengasuhnya yang sesungguhnya adalah ibu kandungnya. Berita-berita itu tentu menggerakkan hati Musa. Mungkin Musa berkata, "Orang-orang Mesir telah menganiaya bangsaku." Walaupun Musa berbaik hati, tetapi hati itu adalah hati pengetahuan, hati yang mati. Inilah keadaan di antara banyak orang Kristen hari ini. Banyak yang berbaik hati. Mereka terharu dan ingin melakukan sesuatu untuk Allah. Tetapi Musa berbuat menurut cara dan kekuatannya sendiri. Akibatnya gagal dan ia sangat kecewa. Musa akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat berbuat apa pun; ia begitu kecewa sehingga ia menyerah. Seolah-olah ia berkata, "Aku begitu baik hati terhadap bangsaku, tetapi Allah tidak mau membantuku. Allah tidak menghargai usaha-usahaku. Allah tidak bersertaku, karena itu aku akan melupakan segalanya dan pergi ke padang belantara." Walaupun ia prihatin terhadap kebahagiaan umat Israel, namun ia sedih karena kegagalannya dan melarikan diri ke padang belantara, di sana ia kesepian dan putus asa, serta menjadi penggembala kambing domba. Musa yang dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya (Kis. 7:22), sekarang adalah penggembala kecil di padang belantara, seorang yang kalah dan dirundung dukacita.
Pada suatu hari, di tengah-tengah kekecewaannya, Allah datang. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam nyala api di semak belukar; semak belukar menyala tetapi tidak dimakan api (Kel. 3:2, 16). Musa merasa heran dan pergi melihat semak belukar itu. Allah seolah-olah berkata kepada Musa, "Hai Musa, kau harus seperti semak belukar yang menyala ini. Janganlah membakar dengan dirimu sendiri atau berbuat dengan dirimu sendiri. Kamu baik hati, tetapi kamu berbuat menurut prinsip yang salah." Kita boleh memakai sebuah mobil masa kini sebagai contoh. Kita tolol sekali kalau ingin menggerakkan mobil dengan menarik atau mendorongnya. Itu hanya akan membuat kita sangat lelah. Kita harus menggunakan bensin sebagai sumber kekuatan. Ketika bensin terbakar, mobil pun bergerak. Kita harus demikian menjalankan kendaraan. Demikian juga Musa belajar berhenti dari pengetahuannya sendiri, caranya sendiri, tenaganya sendiri, dan aktivitasnya sendiri. Musa mulai belajar hidup di hadirat dan penampakan Allah seperti yang dilakukan nenek moyangnya, ia tidak lagi melakukan dengan dirinya sendiri. Sejak waktu itu, ia bersatu dengan Allah. Untuk memimpin bani Israel keluar dari Mesir. TUHAN berkata kepadanya, "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." Dan Musa berkata kepada Tuhan, "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini" (Kel. 33:14-15). Hal ini menunjukkan Musa mengetahui bahwa bekerja bagi Tuhan perlu adanya penyertaan Tuhan. Ia bergerak dalam penyertaan Allah.
Setelah Musa membawa bani Israel keluar dari Mesir, Allah memanggilnya ke puncak gunung, di sana tinggal se-lama 40 hari. Pada waktu ia berada di puncak gunung, ia benar-benar dicurahi sinar kemuliaan Allah. Tatkala ia turun dari gunung, kemuliaan Allah terpancar dari wajahnya (Kel. 34:29). Pada puncak gunung itu Musa menikmati Allah sepenuhnya sebagai pohon hayat. Walaupun pohon hayat telah lenyap bagi orang-orang yang tidak percaya, tetapi ia muncul kembali kepada orang seperti Musa. Musa menikmati Allah sebagai pohon hayat di gunung kemuliaan.
Musa, seperti Nuh menerima visi bangunan Allah. Ketika ia dalam kemuliaan di atas gunung, Allah memberinya contoh rinci tentang tempat kediaman-Nya di bumi (Kel. 25:9). Jika kita bersatu dengan Allah sewaktu kita melayani-Nya dan bekerja bagi-Nya, pekerjaan kita tidak akan menjadi suatu jerih payah, melainkan suatu kenikmatan. Ketika saya berbicara bagi Tuhan, saya sangat menikmati-Nya. Setiap kali saya selesai menyampaikan berita, saya merasa dikenyangkan. Setiap pelayanan yang dari Allah dan menurut Allah sesungguhnya merupakan makanan bagi pembicara itu sendiri. Musa melayani Allah dan menikmati Allah secara demikian. (PH. Kej)

9. Bani Israel - Menempuh Perjalanan di Hadirat Tuhan

9. Bani Israel — Menempuh Perjalanan di Hadirat Tuhan


Ketika kita membicarakan bani Israel, kita mudah sekali mempunyai kesan yang buruk terhadap mereka. Jika kita mengenang kembali betapa mereka melayani lembu emas di padang gurun, kita akan merasa mereka sungguh-sungguh kasihan. Namun, segala sesuatu dalam alam semesta mempunyai dua aspek. Misalnya kita mempunyai siang dan malam. Di setiap rumah ada ruang tamu dan tempat sampah. Dalam Alkitab kita dapat menemukan hal positif dan hal negatif, tergantung dari sudut mana kita melihat. Misalnya, Abraham yang begitu baik mempunyai selir dan dia tidak sebaik yang kita kira. Tetapi kita tidak boleh memandang penting pada hal-hal negatif lebih daripada hal-hal positifnya. Khususnya sewaktu kita membaca sejarah bani Israel.
Selama 40 tahun, bani Israel menempuh perjalanan di hadirat Tuhan (Kel. 13:21-22; Bil. 14:14). Mereka mempunyai tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari. Orang-orang Israel tidak berjalan menurut opini mereka, tetapi hanya mengikuti gerakan tiang. Sesungguhnya, tidak ada dua tiang melainkan hanya satu. Pada siang hari tiangnya kelihatan seperti awan dan pada malam hari tiangnya kelihatan seperti api. Siang harinya Allah menaungi mereka, melindungi mereka dari terik matahari. Malam harinya mereka diberi terang untuk menerangi jalan mereka. Tiang ini adalah Allah sendiri. Sebab itu, sepanjang 40 tahun lamanya di padang gurun bani Israel menikmati penyertaan Allah. Mereka juga makan manna, yaitu makanan surgawi, hari lepas hari mereka menikmati Allah sebagai pohon hayat. Bahkan di padang gurun, kita pun nampak garis pohon hayat. Boleh jadi kita mempunyai pendapat yang negatif tentang bani Israel di padang gurun, tetapi bagaimanapun, mereka mengalami pohon hayat, sehingga hari demi hari mereka menikmati Allah.
Tidakkah baik sekali jika kita hari ini mengalami tiang awan, tiang api, dan manna surgawi seperti itu? Namun jangan lupa bahwa bagian kita jauh lebih baik. Kita mempunyai Roh Kudus sebagai tiang awan dan Alkitab sebagai tiang api. Kita juga mempunyai Tuhan Yesus sebagai manna surgawi kita. Ketika kita berjalan melalui padang gurun, Tuhan beserta kita dan kita menikmati-Nya sebagai pohon hayat.(PH. Kej)

10. Yosua - Hidup dan Bekerja di Hadirat Tuhan

10. Yosua — Hidup dan Bekerja di Hadirat Tuhan


Ketika Allah memanggil Yosua, Allah mendorongnya, menjamin bahwa Ia akan menyertainya seperti Ia menyertai Musa (Yos. 1:5-9). TUHAN memberi tahu Yosua agar perkasa dan berani, sebab TUHAN akan menyertainya ke mana pun ia pergi. Yosua adalah orang yang menikmati Allah.
Asalkan kita menikmati penyertaan Allah, kita dapat menjadi Yosua hari ini. Allah tidaklah jauh dari kita; Ia beserta dengan kita sepanjang waktu. Maka seperti Yosua, kita dapat hidup, bertindak, dan bekerja di hadirat Tuhan. (PH.Kej)

12. Samuel - Berdoa dan Berseru Kepada Tuhan

12. Samuel — Berdoa dan Berseru Kepada Tuhan


Samuel adalah orang yang ajaib dalam Perjanjian Lama, seorang yang senantiasa berdoa bagi anak-anak Allah. Alkitab mengatakan, Samuel memberi tahu orang-orang bahwa ia takkan berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan mereka (1 Sam. 12:23).
Ketika Samuel mendengar bahwa raja Saul berdosa kepada Allah, ia sangat sedih, ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman (1 Sam. 15:11). Karena itu Alkitab menyebut Samuel sebagai "orang yang menyerukan nama-Nya" (Mzm. 99:6), juga menganggap sebagai "orang yang berdiri di hadapan TUHAN' (Yer. 15.1).
Kesemuanya ini mewahyukan kepada kita bahwa Samuel adalah orang yang senantiasa berdoa, orang yang menyeru nama Tuhan, dan orang yang berdiri di hadapan Tuhan. Dengan berdiri di hadapan Tuhan dan menyeru nama Tuhan, ia menikmati Tuhan, menerima-Nya sebagai pohon hayat. Penikmatan ini membuatnya menjadi orang yang menakjubkan dalam sejarah manusia. (PH. Kej)

11.5.07

13. Daud - Bersandar Kepada Allah, Menengadah Kepada Allah dan Menikmati Hayat Allah

13. Daud — Bersandar Kepada Allah, Menengadah Kepada Allah
dan Menikmati Hayat Allah


Daud adalah seorang yang bersandar kepada Allah dan menengadah kepada-Nya (1 Sam. 17:37, 45; 30:6). Rahasia hidup Daud ialah ingin sekali diam di rumah TUHAN seumur hidupnya dan menyaksikan kemurahan TUHAN (Mzm. 27:4, 8, 14).
Ini berarti ia menikmati penyertaan Allah. Lagi pula ia menikmati Allah sebagai lemak dan sungai keriangan (Mzm. 36:9-10).
Daud berkata; "Pada-Mu ada sumber hayat." Hal ini membuktikan bahwa bahkan di zaman dahulu, Daud menikmati hayat Allah sebagai pohon hayat dan sebagai sungai yang mengalir di dalamnya.
Penikmatan akan Allah ini membuatnya menjadi seorang raja yang begitu agung di antara bani Israel. (PH. Kej)

14. Daniel - Berdoa Kepada Allah

14. Daniel — Berdoa Kepada Allah


Kita semua tidak asing lagi mengenai cerita Daniel. Namun orang Kristen pada umumnya hanya ingin mengetahui tentang nubuat Daniel. Mereka ingin mengetahui tentang nubuat Daniel. Mereka ingin mengetahui tentang patung besar dalam Daniel 2; patung dengan kepala emas, bahu perak, perut kuningan, kaki besi, dan jari-jari kaki tanah liat. Mereka juga ingin mengetahui binatang-binatang buas yang keluar dari laut dalam Daniel 7. Orang-orang muda semua tertarik pada perkara-perkara ini.
Meskipun beberapa tahun yang lalu saya menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari hal-hal tersebut, akhirnya saya lebih menghargai segi-segi lain dalam kitab Daniel. Sekarang saya menyukai kitab Daniel karena di dalamnya saya melihat seorang yang senantiasa berdoa dan tak henti-hentinya mengontak Allah (Dan. 6:10-11; 9:3-4; 10:2-3, 12).
Menurut Daniel 6, Daniel melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja di dalam kerajaan Darius. Para pejabat tinggi dan wakil raja lainnya merasa iri hati dan mencari alasan untuk mendakwa Daniel, mereka ingin menyingkirkannya. Mendengar hal ini, Daniel segera pergi kepada Tuhan serta berdoa.
Tujuan komplotan yang terdiri dari 120 pejabat tinggi itu ialah menggoncangkan hubungan Daniel dengan Allah. Tetapi Daniel membuka jendela dan mengarah ke Yerusalem dan berdoa tiga kali sehari.
Ketika Daniel membaca kitab Nabi Yeremia, ia tahu bahwa waktu 70 tahun penawanan akan segera berakhir, ia mulai berdoa (Dan. 9:2-3). Kemudian ia menerima visi lain dan ia berdoa terus-menerus selama 3 minggu sampai memperoleh jawaban (Dan. 10:1-3, 12). Kehidupan berdoa Daniel menghasilkan suatu kehidupan yang kudus.
Di Babilonia, tanah barhala itu ia menempuh hidup dengan kudus. Misalnya, Daniel menolak makan makanan raja, yakni makanan yang disajikan terlebih dulu kepada berhala dan kemudian baru diberikan kepada raja dan rakyatnya untuk dimakan (Dan. 1:8). Walaupun Daniel menolak makanan itu, namun ia sangat menikmati Allah. Ia menikmati Allah sebagai pohon hayat. (PH. Kej)

15. Yesus - Adalah Putra Allah, Hidup Oleh Allah

15. Yesus — Adalah Putra Allah, Hidup oleh Allah


Sewaktu kita sampai pada Perjanjian Baru, kita tahu bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru adalah Tuhan Yesus.
Yesus tidak hanya menikmati pohon hayat, Ia sendiri justru pohon hayat itu. Ia sendiri mengatakan bahwa Ia datang dari Bapa dan Ia hidup oleh Bapa (Yoh. 6:57).
Ia tidak hidup menurut pengetahuan atau pelajaran. Ia hidup, bertindak, dan bekerja menurut Bapa yang bekerja di dalam diri-Nya (Yoh. 14:10). (PH.Kej)

16. Kaum Beriman Perjanjian Baru - Hidup Oleh Tuhan

16. Kaum Beriman Perjanjian Baru — Hidup oleh Tuhan


Nasib kita sebagai kaum beriman Perjanjian Baru ialah tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita (Yoh. 15:5). Ini berarti kita menikmati Tuhan. Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa kita harus makan Dia, karena siapa yang makan Dia akan hidup oleh Dia (Yoh. 6:57; 14:19).
Kita harus makan Tuhan Yesus karena Dialah Roh hayat kita, pohon hayat kita. Pohon hayat ialah hayat yang disajikan dalam bentuk makanan.
Dalam Yohanes 6 Tuhan mempersembahkan diri-Nya sebagai suplai hayat juga dalam bentuk makanan, serta memberi tahu kita bahwa Dialah roti hayat (ayat 35) dan daging-Nya dapat dimakan (ayat 55).
Jika kita makan Dia, kita akan memperoleh-Nya sebagai hayat kita dan suplai hayat yang olehnya kita hidup. Inilah penikmatan yang sejati terhadap pohon hayat. (PH.Kej)

17. Paulus - Memperhidupkan Tuhan

17. Paulus — Memperhidupkan Tuhan


Di antara semua orang saleh dalam Perjanjian Baru, Paulus. adalah contoh orang yang memperhidupkan Tuhan.
Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata bahwa Kristus hidup di dalamnya dan hidup yang dia tempuh adalah hidup oleh iman akan Tuhan Yesus. Paulus mengatakan bahwa dia sendiri telah disalib dan dikubur, sehingga kini Kristus yang hidup di dalamnya.
Pada akhirnya Paulus dapat mengatakan, "Bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Kristus adalah hayatnya dan suplai hayatnya, karena Paulus menikmati Kristus sebagai pohon hayat. (PH.Kej)

18. Gereja Adalah Tubuh Kristus - Hidup Berdasarkan Kristus Sebagai Hayat

18. Gereja Adalah Tubuh Kristus —
Hidup Berdasarkan Kristus Sebagai Hayat


Gereja adalah Tubuh Kristus. Tidaklah mungkin bagi tubuh untuk tidak menikmati kepala. Tubuh tidak dapat dipisahkan dari kepala, sebab pemisahan demikian berarti kematian. Seluruh gereja adalah Tubuh Kristus, tergantung pada Kristus, dan hidup berdasarkan Kristus sebagai hayat (Ef. 1:23; Kol. 3:4). Dengan ini kita bisa melihat bahwa gereja boleh menikmati Kristus sebagai pohon hayat. (PH. Kej)

19. Yerusalem Baru - Ditunjang oleh Sungai Hayat dan Pohon Hayat

19. Yerusalem Baru —
Ditunjang oleh Sungai Hayat dan Pohon Hayat


Pada akhir Alkitab kita melihat perampungan sempurna pohon hayat — Yerusalem Baru. Di tengah-tengah kota itu kita nampak sungai hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba, di mana tumbuh pohon hayat yang berbuah tiap bulannya (Why. 22:1-2).
Nasib dan bagian kita pada alam kekal ialah menikmati pohon hayat dan air hayat. Alkitab berakhir dengan suatu janji dan panggilan. Janji itu ditemukan dalam Wahyu 22:14 yang mengatakan, "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon hayat" (Tl.). Panggilan ini dijumpai di Wahyu 22:17 yang berbunyi, "Siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air hayat dengan cuma-cuma!"
Jadi, seluruh Alkitab berakhir dengan makan dan minum, dengan menikmati Allah sebagai pohon hayat dan dengan meminum-Nya sebagai air hayat. Inilah perampungan sempurna garis hayat.
Apa yang harus kita lakukan hari ini? Kita tidak perlu melakukan apa pun, kita hanya dengan sederhana tinggal pada garis pohon hayat, menikmati Allah sebagai hayat kita dan suplai hayat kita. Allah akan memelihara segala sesuatu. Demi menikmati Tuhan sebagai suplai hayat kita, kita memiliki penempuhan hidup sehari-hari kita, tindakan kita, pekerjaan kita, dan pembangunan gereja.
Dengan demikian, segala sesuatu kita akan menurut kadar ilahi Allah, bukan menurut konsepsi kita sendiri. Sekarang kita tahu jalan yang harus kita tempuh. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita dapat terus berada pada garis hayat. (PH. Kej)

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta

Dua Aliran Yang Keluar Dari Tahta Allah.
Pembacaan Alkitab Yehezkiel 47 ; Wahyu 22. Daniel 7: 9-10

Menurut wahyu dalam Alkitab, kita melihat dua aliran yang mengalir keluar dari takhta Allah. Yang satu aliran air hayat, dan yang lain aliran api.
Aliran air hayat diwahyukan dalam Yehezkiel 47 dan Wahyu 22. Dalam Yehezkiel, air hayat mengalir dari rumah Allah; sedang dalam Wahyu 22, air hayat mengalir dari takhta Allah. Dalam Daniel 7:9-10 kita melihat aliran lain, suatu aliran api, mengalir dari takhta Allah.
Air hayat untuk menghidupkan dan mendiris, sedangkan aliran api untuk menghukum, mengalirkan hukuman ke seluruh semesta. Air sungai itu mengalir keluar dari takhta Allah, akan mengalirkan segala hal yang positif ke Yerusalem Baru.
Aliran api keluar dari takhta Allah dan akan menyapu bersih segala hal negatif ke dalam lautan api.
Dalam awal Alkitab terdapat permulaan dua garis, garis hayat dan garis pengetahuan. Pada akhir Alkitab ada dua hasil, dua penyelesaian — kota air hayat dan lautan api yang menyala-nyala.
Di manakah Anda? Akan ke manakah Anda? Anda pada garis yang mana? Tentu garis hayat adalah garis yang benar dan garis pengetahuan adalah garis yang salah. Sebagai umat tebusan tentu saja kita berada pada garis yang benar yaitu garis hayat.
Namun mungkin saja hidup dan pekerjaan kita, yaitu cara kita hidup dan bekerja bagi Allah, berada pada garis yang salah. Meskipun manusia kita berada pada garis hayat, tetapi hidup dan pekerjaan kita mungkin berada pada garis pengetahuan.
Alkitab sejak mula telah memperingatkan manusia untuk menjauhi garis pengetahuan dan tetap berada atau kembali kepada garis hayat. Sekali kita diselamatkan, kita beroleh selamat selama-lamanya dan keselamatan kita teguh hingga kekal.
Namun, Alkitab memperingatkan kita mengenai hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita bagi Tuhan. Dalam Galatia Paulus memperingatkan kita untuk hidup oleh Roh (5:16) dan menabur dalam Roh (6:7-8). Bila tidak demikian, segala hal yang kita lakukan akan terbakar habis oleh api.
Dalam 1 Korintus 3 Paulus mengingatkan kita, pembangun-pembangun gereja, harus berhati-hati supaya membangun dengan bahan-bahan yang tepat. Jika kita membangun gereja dengan emas, perak, dan batu-batu permata, pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai Yerusalem Baru, sebab Yerusalem Baru adalah kota yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batubatu permata.
Sebaliknya, Paulus juga memperingatkan kita bahwa kayu, rumput, dan jerami hanya patut dibakar (1 Kor. 3:12-15). Semua yang dibangun dengan bahan-bahan itu akan disapu oleh aliran api ke dalam lautan api.
Jadi, kita patut waspada terhadap diri kita, hidup kita, dan pekerjaan kita. Kita sendiri harus berada pada garis yang benar, hidup kita sehari-hari dan pekerjaan kita juga harus berada pada garis yang benar.
Kemudian kita dan pekerjaan kita akan masuk ke dalam Yerusalem Baru. Kita harus sangat jelas mengenai kedua garis ini. (PH B.15)